MAKALAH HIDROLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI SERUYAN
MAKALAH REKAYASA HIDROLOGI
“HIDROLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI”
SUNGAI SERUYAN
Dosen :
Ridwan, MT
DI SUSUN OLEH :
“KELOMPOK 3”
ANANDA
BUDIMANNUR 1722201000019
SAFIRA
FIDARANI 1722201000023
SRI YUSKI 1722201000016
YAYASAN
WIJAYA KUSUMA
UNIVERSITAS
DARWAN ALI
FAKULTAS
TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
Jalan A Yani
No. 01 Kuala Pembuang Kab. Seruyan Kalimantan Tengah
KATA PENGANTAR
Puji syukur
saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang mana telah memberikan
rahmat dan hidayahnya sehingga
kami dapat menyelesaikan Makalah Tugas Hidrologi ini tepat
waktu dan dengan sebagimana mestinya.
Makalah Tugas Hidrologi ini telah kami
susun dengan semaksimal mungkin dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
sehingga dapat mempelancar pembuatan laporan ini. Untuk itu kami ucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya saya kepada semua pihak yang memberikan bantuan,
bimbingan dan pengarahan, khususnya kepada Bapak Ridwan, ST.,MT selaku dosen
pembimbing dan juga teman-teman Fakultas Teknik yang telah telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya
menyadari sepenuhnya bahwa tugas besar ini masih jauh dari kata sempurna baik
dari segi materi maupun cara penulisannya. Oleh karena itu dengan lapang dada
dan tang terbuka saya menerima segala saran dan kritikan yang membangun dari
teman-teman semua.
Akhir kata saya berharap semoga Makalah Tugas Hidrologi
ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang Daerah
Aliran Sungai bagi semua pihak.
Kuala
Pembuang, Desember 2018
Penyusun
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Air
merupakan salah satu kebutuhan pokok kehidupan sehari-hari yang tidak dapat
terpisahkan, tidak hanya penting bagi manusia air merupakan bagian yang penting
bagi makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan. Menurut Hendrayana dan Putra
(2008), eksploitasi terhadap sumberdaya air secara berlebihan dapat
mengakibatkan rusaknya ekosistem air, dan akhirnya sulit untuk menyediakan air
bersih baik secara kualitas dan kuantitas. Kebutuhan air tidak hanya tergantung
pada kuantitas, namun tergantung juga pada kualitasnya. Menurut Sutanto dan
Purwasih (2012), kualitas air adalah mutu air yang memenuhi standar dalam ambang
batas yang telah
ditentukan untuk tujuan tertentu. Syarat yang ditetapkan untuk memenuhi standar
mutu air berbeda-beda tergantung tujuan penggunaan, sebagai contoh, air yang
digunakan untuk konsumsi memiliki standar mutu yang berbeda dengan air irigasi pertanian.
Oleh karena itu masalah air yang dihadapi di masa sekarang adalah jumlah dan
kualitas air yang semakin menurun, sedangkan kebutuhan air semakin meningkat.
Sungai
merupakan suatu aliran air yang besar dan memanjang mengalir secara terus-menerus
dari sumber
menuju muara, sungai juga memiliki peranan penting dalam kehidupan setiap
makhluk hidup. Menurut
Setiawan (2009), sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang memiliki
peran penting dalam daur hidrologi serta berfungsi sebagai daerah tangkapan air
(Catchment area) bagi 2 daerah sekitarnya, sehingga kondisi suatu sungai
dapat dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki oleh lingkungan sekitar.
Menurut Rohatin dan Nurjanah (2011), sungai merupakan ekosistem terbuka yang
selalu mendapat masukan energi dan materi dari ekosistem yang ada di
sekitarnya. Bentuk materi yang masuk ke sungai dapat berupa materi organik
maupun anorganik. Materi yang masuk ke sungai dapat menyebabkan pencemaran
ataupun tidak, tergantung dari kadarnya.
Masuknya
bahan pencemar ke dalam sungai dapat mengubah berbagai kondisi fisik maupun
kimia dari lingkungan tersebut, sehingga bahan pencemar ini dapat mengubah
keragaman komunitas air yang terdapat di sungai, karena organisme-organisme
yang berada dalam suatu lingkungan tersebut tidak semua toleran terhadap
tekanan kondisi lingkungan tersebut, melainkan mempunyai ambang batas toleransi
sendiri. Menurut Arisandi (2012), degradasi dan penurunan kualitas daya dukung
lingkungan dapat mengubah stuktur dan fungsi dari suatu komunitas yang ada
disekitar lingkungan, dan perubahan yang terjadi bergantung pada kemampuan
toleransi masing–masing spesies penyusunnya. Peraturan Pemerintah Nomor 82
Tahun 2001 menjelaskan bahwa kualitas air ditentukan berdasarkan keadaan air
dalam keadaan normal, dan bila terjadi suatu penyimpangan diatas ambang batas
peruntukannya dapat disebut sebagai air yang mengalami pencemaran, atau disebut
sebagai air terpolusi.
Pemda
Kabupaten Seruyan (2016), sungai yang terdapat di Kabupaten Seruyan adalah
sungai seruyan. Sungai Seruyan dengan panjang sekitar 350 km, merupakan sungai
utama, dari Sungai Seruyan ada 6 (enam) buah anak sungai yang besar dan dapat
digunakan sebagai sumber air maupun sebagai sarana transportasi.
Keenam
anak sungai tersebut adalah sungai Kale, Pukun, Salau, Manjul, Kuala Besar dan
Danau Sembuluh. Air sungai tersebut telah dimanfaatkan oleh penduduk kakus
(MCK), pembuangan limbah rumah tangga, irigasi persawahan, memandikan ternak,
dan membuang kotoran ternak yang secara terus menerus dapat berpotensi
mengakibatkan pencemaran. Selain itu yang berpotensi mengakibatkan pencemaran
di sungai Seruyan yaitu penangkapan ikan menggunakan racun dalam jumlah skala
yang besar serta masuknya limbah pabrik kelapa sawit.
Data
dari Badan Pusat Statistik (2015), Provinsi Kalimantan Tengah memiliki 145
perusahaan (1 perkebunan besar negara dan 144 perkebunan
besar swasta). Kabupaten Seruyan merupakan daerah yang memiliki perusahaan
perkebunan kelapa sawit dengan jumlah 35 perusahaan yang jumlahnya hampir sama
dengan Kotawaringin Timur, merupakan jumlah perusahaan terbanyak yang berada di
Provinsi Kalimantan Tengah. Usaha perkebuanan kelapa sawit yang semakin pesat,
serta pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) juga
mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pesatnya pertumbuhan pabrik CPO
menyebabkan limbah yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit semakin besar.
Hadiyanto
(2011), menyatakan bahwa limbah POME (Palm Oil Mill Effluent) adalah
limbah cair kelapa sawit yang saat ini masih menjadi suatu masalah dan belum
termanfaatkan secara optimal. Limbah POME banyak diperoleh dari sisa proses
pembuatan CPO (Crude Palm Oil), 1 ton kelapa sawit akan menghasilkan
50-60% POME dan 20% CPO. Permasalahan utama dari limbah cair ini adalah
tingginya konsentrasi BOD, COD dan total solid, sehingga mengakibatkan limbah
ini tidak dapat dibuang langsung ke lingkungan. Menurut Hudha, dkk,. (2012),
jika 4 angka BOD meningkat kebutuhan oksigen agar mikroorganisme dapat mengurai
bahan-bahan organik juga meningkat, ketika oksigen yang dibutuhkan tidak
mencukupi untuk mengurai bahan-bahan organik sementara limbah industri
terus-menerus dibuang ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu akan
menimbulkan pencemaran yang berpengaruh terhadap kualitas air sungai.
Penangkapan
ikan dengan menggunakan racun dalam skala besar juga dapat menimbulkan
pencemaran yang berpengaruh terhadap kualitas air sungai yang berada di
Kabupaten Seruyan. Racun yang digunakan sebagian besar adalah akar pohon tuba (Derris
elliptica). Tuba memiliki kandungan zat beracun yang terdapat di dalam akar
tuba. Menurut Rante, dkk., (2013), tanaman tuba yang sangat beracun bagi
serangga dan ikan terletak pada bagian akar. Menurut Hutabarat, dkk., (2015)
zat beracun yang terdapat pada akar tuba yaitu rotenon (C23H22O6), deguelin,
tefrosin, dan toksikarol. Rotenon secara kimiawi digolongkan ke dalam kelompok
flavonoid yang merupakan racun kuat bagi serangga dan ikan, 15 kali lebih
beracun dibandingkan nikotin dan 25 kali lebih beracun dibanding Potassium
ferrosianida.
Perubahan
terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari nilai saprobik dengan
menggunakan fitoplankton sebagai alat pemantau kualitas perairan. Menurut
Junaidi, dkk., (2013) plankton (fitoplankton) merupakan organisme melayang yang
hidupnya dipengaruhi oleh arus air, fitoplankton dapat digunakan sebagai
indikator perubahan biologis suatu perairan, karena kelompok biota perairan ini
umumnya sangat sensitif terhadap perubahan suatu lingkungan dan siklus hidup
yang dimiliki relatif singkat. Menurut Rizky, dkk., (2012), perubahan terhadap
kualitas perairan, erat kaitannya dengan potensi perairan terutama ditinjau
dari keanekaragaman, komposisi, dan nilai saprobitas fitoplankton. Keberadaan
jenis fitoplankton tertentu pada suatu perairan dapat memberikan berbagai
informasi mengenai kondisi perairan bersangkutan dalam keadaan bersih atau
tercemar, sehingga fitoplankton sebagai parameter biologi dapat dijadikan
indikator untuk mengevaluasi kualitas suatu perairan.
Wijaya
dan Hariyati (2009), fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat
dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan suatu
perairan (bioindikator). Pengkajian kualitas biologis ini sangat penting karena
fungsi akumulatifnya dapat mengantisipasi perubahan lingkungan yang terjadi di
suatu wilayah tertentu. Menurut Rahayu dan Astria (2012), fitoplankton adalah
kelompok flora yang memiliki kemampuan berfotosintesis karena sel pada tubuhnya
mengandung klorofil. Fitoplankton berperan penting di perairan, yaitu sebagai
penyedia oksigen, selain dari tumbuhan air dan atmosfir sumber oksigen terbesar
(90-95%) di perairan adalah hasil dari fotosintesis fitoplankton.
Maka
dari permasalahan-permasalahan tersebut diharapkan dengan penelitian penggunaan
indeks saprobik sebagai pemantau kualitas lingkungan air sungai Seruyan dapat
memberikan gambaran terhadap kondisi umum kualitas perairan sungai Seruyan
serta membuat masyarakat sadar dan mengetahui dampak negatif bagi biota dalam
sungai dan makhluk hidup lainnya dari pembuangan limbah pabrik dan penggunaan
racun ikan. Akumulasi pencemaran akibat aktivitas yang terjadi di badan sungai
ini memberikan dampak negatif bagi biota yang hidup di dalam sungai, sehingga
organisme yang tidak tahan dengan kondisi lingkungan tersebut akan mati dan
penelitian mengenai kualitas air dengan menggunakan fitoplankton belum
pernah dilakukan di sungai Seruyan. Berdasarkan latar belakang permasalahan
tersebut, maka peneliti terdorong untuk mengadakan penelitian dengan judul
“Penggunaan Indeks Saprobik Sebagai Pemantau Kualitas Air Sungai Seruyan
Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Dan Kajian Potensi Sebagai Sumber Belajar
Biologi”.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
permasalahan-permasalahan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai
berikut
1.
Bagaimana
keanekaragaman genus fitoplankton di sungai Seruyan?
2.
Bagaimana kualitas air
sungai Seruyan berdasarkan parameter fisik?
3.
Bagaimana kualitas air
sungai Seruyan berdasarkan parameter kimia?
4.
Bagaimana kualitas air
sungai Seruyan berdasarkan parameter biologi dengan menggunakan indeks saprobik?
5.
Bagaimana pemanfaatan
hasil dari penelitian yang dijadikan sebagai sumber belajar biologi?
6.
Bagaimana
pemanfaatan danau Sembuluh?
1.3.
Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan penelitian ini berdasarkan rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui
keanekaragaman genus fitoplankton yang ditemukan di sungai Seruyan.
2.
Menganalisis kualitas
air sungai Seruyan berdasarkan parameter fisik.
3.
Menganalisis kualitas
air sungai Seruyan berdasarkan parameter kimia.
4.
Menganalisis kualitas
air sungai Seruyan berdasarkan parameter biologi dengan menggunakan indeks saprobik.
5.
Mengetahui manfaat
hasil dari penelitian yang dijadikan sebagai sumber belajar biologi.
1.4.
Manfaat Penelitian
Manfaat
dari penelitian ini adalah :
1.
Secara Teoritik
a. Untuk
mengembangkan keilmuan dalam mata kuliah Pengetahuan Lingkungan, Ekologi dan Invertebrata.
b. Penelitian
ini diharapkan dapat mendorong perkembangan ilmu-ilmu biologi khususnya bidang
lingkungan tentang pencemaran lingkungan.
2.
Secara Praktis
a. Memberikan
informasi kepada masyarakat tentang pengaruh fitoplankton sebagai alat identifikasi untuk
menentukan kualitas air sungai.
b. Memberikan
informasi kepada masyarakat tentang dampak negatif yang diakibatkan oleh limbah buangan domestik
maupun industri.
c. Sebagai
seorang guru, memberikan wawasan kepada peserta didik tentang penerapan ilmu biologi pada kehidupan
sehari-hari terutama pada bidang lingkungan.
1.5.
Batasan Penelitian
1.
Parameter yang diteliti
dari penelitian ini yaitu parameter biologi Indeks Saprobik (fitoplankton).
2.
Parameter fisik
(Kekeruhan, Kuat Arus, dan Temperatur) dan kimia (pH, BOD, dan DO) menjadi data pendukung.
3.
Lokasi penelitian ini
berada di sepanjang daerah aliran sungai Seruyan wilayah Kabupaten Seruyan, Kalimantan
Tengah. Adapun lokasinya antara lain adalah:
a. Sumber
anakan sungai Seruyan yaitu sungai Tarus yang mana anakan sumber sungai ini
memiliki potensi tercemar akibat pembuangan limbah perusahaan pabrik kelapa
sawit.
b. Sungai
indukan yaitu sungai Seruyan dari hulu sebelum sumber anakan sungai masuk
keindukan sungai, sungai bagian tengah setelah sumber anakan sungai masuk
keindukan sungai, dan hilir sesudah sungai bagian tengah dengan jarak 5 km
setelah pengambilan sampel.
1.6.
Definisi Istilah
1.
Indeks saprobik
merupakan indeks yang digunakan untuk mengetahui status pencemaran pada suatu
perairan dengan menggunakan keberadaan organisme seperti komposisi fitoplankton
di perairan (Sagala, 2011).
2.
Pemantau merupakan
suatu alat yang digunakan untuk mengamati atau mengawasi terutama untuk tujuan khusus
(Setiawan, 2009).
3.
Kualitas Air adalah
suatu ukuran kondisi air dilihat dari karakteristik fisik, kimiawi, dan
biologisnya (PP RI Nomor 82, 2001).
4.
Sumber belajar adalah
segala sesuatu baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan
oleh peserta didik dalam kegiatan belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga
mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar (Abdulah,
2012).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Tinjauan Tentang Air Sungai
2.1.1.
Pengertian Air Sungai
Sungai
merupakan saluran terbuka yang terbentuk secara alami di atas permukaan bumi,
tidak hanya menampung air tetapi juga mengalirkannya dari bagian hulu menuju ke
bagian hilir dan ke muara (Junaidi, 2014). Menurut Putra (2014), sungai dapat
diartikan sebagai aliran terbuka dengan ukuran geometrik (tampak lintang,
profil memanjang dan kemiringan lembah) berubah seiring waktu, tergantung pada
debit, material dasar dan tebing, serta jumlah dan jenis sedimen yang terangkut
oleh air. Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sungai
merupakan wadah atau alur alami maupun buatan yang didalamnya tidak hanya
menampung air akan tetapi juga mengalirkan mulai dari hulu menuju muara.
Menurut
Junaidi (2014), proses terbentuknya sungai berasal dari mata air yang mengalir
di atas permukaan bumi. Proses selanjutnya aliran air akan bertambah seiring
dengan terjadinya hujan, karena limpasan air hujan yang tidak dapat diserap
bumi akan ikut mengalir ke dalam sungai. Perjalanan dari hulu menuju hilir,
aliran sungai secara berangsur-angsur menyatu dengan banyak sungai lainnya,
Penggabungan ini membuat tubuh sungai menjadi semakin besar. Peraturan
Pemerintah RI No. 38 tahun 2011, suatu wilayah daratan yang merupakan satu
kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung,
menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke laut secara
alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut
sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan disebut
dengan daerah aliran sungai (DAS). Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang SDA
memaparkan bahwa DAS memiliki bagian yang disebut dengan sub DAS yaitu yang
menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama.
Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub-sub DAS. Adapun pada sempadan sungai
memiliki aturan untuk perlindungan kawasan sungai dan sekitarnya sungai yang
terdapat di kawasan sendiri dengan sempadan 5 – 10 meter berupa jalur hijau
atau jalan inspeksi. Menurut Asdak (2007: 4), DAS merupakan suatu wilayah
daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung punggung gunung yang
menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya kelaut melalui
sungai utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (catchment
area) yang merupakan suatu ekosistem yang unsur utamanya terdiri atas
sumber daya alam (tanah, air dan vegetasi) dan sumber daya manusia sebagai
pemanfaat sumber daya alam.
Norhadi,
dkk., (2015) dalam penelitian mengklasifikasikan sungai menurut para ahli
maupun lembaga seperti Kern, Okologie, Helfrich et al, dan LFU. Kern (1994)
mengklasifikasikan sungai berdasarkan lebarnya, mulai dari kali kecil yang
bersumber dari mata air hingga bengawan dengan lebar lebih dari 220 meter.
Heinrich dan hergt dalam Atlas Okologie (1999) mengklasifikasikan sungai
berdasarkan lebar sungai dan luas DAS. Sungai kecil disebut juga dalam bahasa
inggris brooks, branceches, creeks, forks, dan runs, tergantung
bahasa lokal masing-masing daerah yang ada. Semuanya berarti sungai kecil
sedangkan terminologi yang membedakan antara sungai kecil (stream) dan
sungai besar (river) hanya tergantung kepada pemberi nama pada pertama
kalinya (Helfrichetal.dalam Atlas okologie, 1999). Selanjutnya sungai kecil didefinisikan
sebagai air dangkal yang mengalir di suatu daerah dengan lebar aliran tidak
lebih dari 40 m pada muka air normal, sedangkan kondisi yang lebih besar dari
sungai kecil disebut sungai atau sungai besar. LfU (2000) mengklasifikasi
sungai kecil atau sungai besar berdasarkan kondisi vegetasi alamiah di
pinggirnya. Disebut sungai kecil bila dahan dan ranting vegetasi pada kedua
sisi tebingnya bertautan dan dapat menutupi sungai yang bersangkutan. Sedangkan
pada sungai besar, dahan vegetasi pada kedua sisi tebingnya tidak dapat
bertautan karena terpisah cukup jauh.
2.1.2.
Kualitas Air Sungai
Kualitas
air adalah mutu air yang memenuhi standar untuk tujuan tertentu. Syarat yang
ditetapkan sebagai standar mutu air berbeda-beda tergantung tujuan penggunaan,
sebagai contoh, air yang digunakan untuk irigasi memiliki standar mutu yang
berbeda dengan air untuk dikonsumsi. Kualitas air dapat diketahui nilainya
dengan mengukur kondisi fisika, kimia dan biologi (Rahayu, 2009). Menurut
Agustiningsih, dkk. (2012), kualitas air sungai dipengaruhi oleh kualitas
pasokan air yang berasal dari daerah tangkapan sedangkan kualitas pasokan air
dari daerah tangkapan berkaitan dengan aktivitas manusia. Kualitas air sungai
dapat diamati dengan melihat status mutu air. Status mutu air menunjukkan
tingkat kondisi mutu air sumber air dalam kondisi tercemar atau kondisi baik
dengan membandingkan dengan baku mutu yang telah ditetapkan.
Menurut
Mahyudin, dkk. (2015), status mutu air sungai menunjukan tingkat pencemaran
suatu sumber air dalam waktu tertentu, dibandingkan dengan baku mutu air yang
ditetapkan. Sungai dapat dikatakan tercemar apabila tidak dapat digunakan
sesuai dengan peruntukaannya secara normal/keluar dari ambang batas yang telah
ditentukan. Klasifikasi dan kriteria kualitas air di Indonesia diatur dalam
Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001. Berdasarkan Peraturan Pemerintah,
kualitas air diklasifikasikan menjadi empat kelas yaitu:
1.
Kelas I: dapat
digunakan sebagai air minum atau untuk keperluan konsumsi lainnya
2.
Kelas II: dapat
digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan
dan mengairi tanaman
3.
Kelas III: dapat
digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan mengairi tanaman
4.
Kelas IV: dapat
digunakan untuk mengairi tanaman
Kriteria
kualitas air untuk tiap-tiap kelas didasarkan pada kondisi fisik-kimia, biologi
dan radioaktif. Secara sederhana, kualitas air dapat diduga dengan melihat
kejernihan dan mencium bau pada air. Namun terdapat bahan-bahan pencemar yang
tidak dapat diketahui hanya dari bau dan warna, melainkan harus dilakukan
serangkaian pengujian. Hingga saat ini, dikenal ada dua jenis pendugaan
kualitas air yaitu fisik-kima dan biologi (Rahayu, 2009).
2.1.3.
Pencemaran Air
Perairan
merupakan suatu ekosistem yang kompleks sebagai habitat dari semua jenis
makhluk hidup, mulai dari ukuran mikro hingga makro. Perairan yang alami
memiliki sifat yang dinamis dan aliran energi yang kontinu selama sistem
didalamnya tidak mengalami gangguan atau hambatan seperti pencemaran (Lukman,
2006). Menurut Nugroho (2006), pencemaran air dapat menyebabkan berkurangnya
keanekaragaman organisme perairan seperti benthos, perifiton, serta plankton.
Hal ini menyebabkan sistem ekologis perairan dapat terganggu. Sistem ekologis
perairan mempunyai kemampuan untuk memurnikan kembali lingkungan yang telah
tercemar sejauh beban pencemaran masih berada dalam batas daya dukung
lingkungan yang bersangkutan.
Secara
mudah air tercemar dapat dilihat dengan mudah, melalui kondisi fisik air,
misalnya dilihat dari tingkat kekeruhan, warnanya yang transparan dan tembus
cahaya, atau dari baunya yang menyengat hidung. Air tercemar juga dapat
diketahui dari matinya atau terganggunya organisme perairan, seperti ikan,
tanaman, dan hewan-hewan yang berhubungan dengan air terebut (Herlambang,
2006). Menurut Peraturan Pemerintah NO. 82/2001, pencemaran air adalah masuknya
atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam
air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat
tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukannya. Dari kedua pendapat tentang definisi pencemaran air secara
tersirat bahwa pencemaran air adalah berubahnya tatanan lingkungan oleh
kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun
sampai ke tingkat tertentu.
2.2.
Tinjauan Umum Sungai Seruyan
Kabupaten
Seruyan merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Kalimantan
Tengah yang mana terdapat beberapa sungai yang digunakan dalam berbagai macam
keperluan untuk kebutuhan makhluk hidup. Adapun daftar sungai yang ada di
Kalimantan Tengah berdasarkan panjang, kedalaman dan lebar sebagai berikut:
Tabel 2.1 Nama-Nama Sungai menurut Panjang, Kedalaman
dan Lebar Kalimantan Tengah
Nama
Sungai
|
Panjang/Length
|
Rata-rata/Average
|
|||
Kilometer
(km)
|
Dapat
dilayari/ be sailed (km)
|
Kedalaman/
Depth (meter)
|
Lebar/
Width (meter)
|
||
1.
|
Sungai
Jelai
|
200
|
150
|
8
|
150
|
2.
|
Sungai
Arut
|
250
|
190
|
4
|
100
|
3.
|
Sungai
Lamandau
|
300
|
250
|
6
|
150
|
4.
|
Sungai
Kumai
|
175
|
100
|
6-9
|
250
|
5.
|
Sungai
Seruyan
|
350
|
300
|
5
|
250
|
6.
|
Sungai
Mentaya
|
400
|
270
|
6
|
350
|
7.
|
Sungai
Katingan
|
650
|
520
|
3-6
|
250
|
8.
|
Sungai
Sebangau
|
200
|
150
|
5
|
100
|
9.
|
Sungai
Kahayan
|
600
|
500
|
7
|
450
|
10.
|
Sungai
Kapuas
|
600
|
420
|
6
|
450
|
11.
|
Sungai
Barito
|
900
|
700
|
6-14
|
350-500
|
(Badan Pusat Statistik Kalteng, 2015).
Tabel di atas menunjukan bahwa sungai Seruyan
merupakan salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Seruyan dengan panjang
350 km dan kedalaman 8 m serta memiliki lebar rata-rata 250 m, menjadikan
sungai ini salah satu sungai besar yang terdapat di Kalimantan Tengah.
Berdasarkan paparan dari Pemda Kabupaten Seruyan (2016), Sungai yang terdapat
di Kabupaten Seruyan adalah sungai seruyan. Secara umum pola sungai di
Kabupaten Seruyan adalah pola dendritik dimana salah satu sifat utamanya adalah
apabila terjadi hujan merata di seluruh daerah aliran sungai, maka puncak
banjirnya akan demikian tinggi hingga mempunyai potensi besar untuk menggenangi
daerah yang ada di sekitar aliran sungai, khususnya di bagian hilir sungai.
Sungai Seruyan dengan panjang sekitar 350 km, merupakan sungai utama yang
mengalir dari pegunungan Schwaner di utara menuju Laut Jawa di bagian Selatan.
Sungai Seruyan memiliki 6 (enam) buah anak sungai yang besar dan dapat digunakan
sebagai sumber air maupun sebagai sarana transportasi. Keenam anak sungai
tersebut adalah Danau Sembuluh, Kuala Besar, Manjul, Salau, Pukun, dan Kale.
2.3. Tinjauan
Tentang Plankton
2.3.1.
Pengertian Plankton
Secara sederhana plankton diartikan sebagai hewan dan
tumbuhan renik yang terhanyut di suatu perairan. Nama plankton berasal dari
akar kata Yunani “planet” yang berarti pengembara. Istilah plankton
pertama kali diterapkan untuk organisme di laut oleh Victor Hensen direktur
Ekspedisi Jerman pada tahun 1889, yang dikenal dengan “Plankton Expedition”
khusus dibiayai untuk menentukan dan membuat sitematika organisme laut
(Sunarto, 2008). Menurut Junaidi, dkk. (2013), istilah plankton pertama kali
digunakan oleh Victor Hensen pada tahun 1887, berasal dari bahasa Yunani yang
arti dalamya mengembara. Plankton adalah organisme renik yang melayang-layang
dalam air atau mempunyai kemampuan renang yang sangat lemah, pergerakannya
selalu dipengaruhi oleh gerakan masa air. Dari pendapat diatas maka dapat
diartikan bahwa plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup melayang di
perairan atau plankton merupakan organisme baik tumbuhan maupun hewan yang
umumnya berukuran relatif kecil (mikro),
hidup melayang-layang di air, mempunyai daya gerak relatif lemah sehingga
distribusinya sangat dipengaruhi oleh daya gerak air.
2.3.2.
Klasifikasi Plankton Berdasarkan Pembagiannya
Plankton terdiri dari dua kelompok besar organisme
akuatik yang berbeda yaitu organisme fotosintetik atau fitoplankton dan
organisme non fotosintetik atau zooplankton (Sunarto, 2008). Menurut Rahayu dan
Astria (2012), bahwa plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton. Zooplankton
merupakan plankton kelompok fauna yang umumnya mampu bergerak aktif, sedangkan
fitoplankton adalah kelompok flora yang mampu berfotosintesis karena sel
tubuhnya mengandung klorofil.
1.
Fitoplankton
Menurut Sunarto (2008), fitoplankton adalah tumbuhan
mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang
menempati bagian atas perairan (zona fotik) perairan terbuka dan
lingkungan pantai. Penggolongan fitoplankton berdasarkan taksonomi dan
ukurannya. Berdasarkan ukurannya ada beberapa golongan fitoplankton antara
lain:
Tabel
2.2. Kelompok plankton berdasarkan kategori ukuran
Kelompok
|
Ukuran
|
||
Charton dan Tietjen (1989)
|
Nybakken (1988)
|
Kennish (1990)
|
|
Ultraplankton
|
< 5 μm
|
< 2 μm
|
< 5 μm
|
Nanoplankton
|
5- 50 μm
|
2- 20 μm
|
5-70 μm
|
Mikroplankton
|
50-500 μm
|
20 μm – 0,2 μm
|
70-100 μm
|
Mesoplankton
|
500 μm
|
-
|
-
|
Makroplankton
|
5000 μm- 50.000 μm
|
0,2-2 mm
|
70-100 μm
|
Megaplankton
|
> 50.000 μm
|
> 2 mm
|
> 100 μm
|
(Sunarto, 2008) 18
Sedangkan menurut Junaidi dkk. (2013), yang menyatakan
fitoplankton terbagi berdasarkan ukuran plankton dalam lima golongan yaitu :
nanoplankton yang berukuran 2-20 mm, ultrananoplankton organisme yang memiliki
ukuran kurang dari 2 mm, mikroplankton berukuran 20-200 mm, makroplankton ialah
organisme planktonik yang berukuran 200- 2000 mm dan megaplankton ialah
organisme planktonik yang berukuran lebih dari 2000 mm.
2.
Zooplankton
Zooplankton merupakan plankton hewani yang terhanyut
secara pasif karena terbatasnya kempuan bergerak. Berbeda dengan fitoplankton ,
zooplankton hampir meliputi seluruh filum hewan mulai dari protozoa (hewan
bersel tunggal) sampai filum Chordata (hewan bertulang belakang). Para ahli
kelautan juga mengklasifikasikan zooplankton sesuai ukuran dan lamanya hidup
sebagai plankton. Ada tiga katagori ukuran zooplankton yang dikenal dengan
mikrozooplankton, mesozooplankton, dan makrozooplankton. Mikrozooplankton
meliputi zooplankton yang dapat melewati plankton net dengan mata 202 μm dan
mesozooplankton adalah yang tersangkut sedangkan makrozooplankton dapat
ditangkap dengan plankton net dengan lebar mata 505 μm (Sunarto, 2008).
Berdasarkan siklus hidupnya menurut Gunawan (2015), zooplankton ada yang
selamanya sebagai plankton (holoplankton) dan ada yang sebagian hidupnya (pada
awal hidupnya) saja sebagai plankton (meroplankton). Organisme meroplankton
terutama terdiri dari larva planktonik dan bentik invertebrata, bentik chordata
dan nekton (ichtyoplankton).
2.3.3. Plankton
Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan
Organisme perairan dapat digunakan sebagai indikator
pencemaran karena habitat, mobilitas dan umurnya yang relatif lama mendiami
suatu wilayah perairan tertentu (Abadi dkk., 2010). Menurut Rahayu dan Astria
(2012), Plankton adalah mikroorganisme yang ditemukan hidup melayang dan hidup
bebas di perairan dengan pergerakan yang rendah. Organisme ini merupakan salah
satu parameter biologi yang memberikan informasi mengenai kondisi perairan,
baik kualitas perairan maupun tingkat kesuburannya.
Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau
dari kelimpahan dan komposisi plankton serta nilai saprobitas fitoplankton.
Keberadaan plankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai
keadaan perairan. Menurut Junaidi, dkk., (2013), plankton merupakan organisme
melayang yang hidupnya dipengaruhi oleh arus dan umumnya digunakan sebagai
indikator perubahan biologis suatu perairan, karena kelompok biota perairan ini
umumnya sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan siklus hidupnya
relatif singkat. Plankton juga merupakan komponen utama dalam rantai makanan di
perairan. Menurut Rizky, dkk., (2012), perubahan terhadap kualitas perairan,
erat kaitannya dengan potensi perairan terutama ditinjau dari keanekaragaman
dan komposisi plankton. Keberadaan jenis plankton tertentu pada suatu perairan
dapat memberikan informasi mengenai kondisi perairan bersangkutan dalam keadaan
bersih atau tercemar, sehingga plankton sebagai parameter biologi dapat
dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas suatu perairan atau sebagai
bioindikator.
2.4. Hasil
Penelitian Sebagai Sumber Belajar
Sumber belajar merupakan semua sumber seperti pesan,
orang, bahan, alat, teknik, dan latar yang dimanfaatkan peserta didik sebagai
sumber untuk kegiatan belajar dan dapat meningkatkan kualitas belajarnya atau
segala sesuatu yang berwujud benda dan orang yang dapat menunjang kegiatan
belajar sehingga mencakup semua sumber yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh
tenaga pengajar agar terjadi perilaku belajar (Abdullah, 2012). Sumber belajar
dilihat dari 2 sudut pandang yakni proses dan produk. Proses dan produk dapat
dikatakan sebagai sumber belajar, serta perlu mempertimbangkan syarat
pemanfaatan sumber belajar seperti yang dirumuskan oleh Djohar (1987) yang
meliputi:
1.
Kejelasan
Potensi
Kejelasan potensi menjelaskan bagaiman obyek
penelitian memiliki gejala dan permasalahan, jika obyek tersebut memberikan
pengalaman belajar kepada siswa maka obyek penelitian dapat dijadikan sumber
belajar. Obyek tersebut yang nantinya dapat dikaitkan dengan KI dan KD.
2.
Kesesuaian
dengan Tujuan Belajar
Kesesuaian dengan tujuan belajar melibatkan 3 ranah
(psikomotorik, afektif, dan kognitif) yang tidak bisa terlepas dari 5 M
(mengamati, menanya, mengumpulkan data, menalar, dan mengomunikasikan/membuat
kesimpulan). Tujuan KD pembelajaran harus sesuai KD yang nantinya dapat dibuat
indikator.
3.
Kejelasan
Sasaran
Kejelasan
sasaran merupakan sasaran penelitian dari obyek penelitian. Misalnya dalam
penelitian ini sasaran pengamatan adalah plankton meliputi jenisnya, densitas
dan diversitas dari plankton. Sedangkan kualitas air yang diteliti meliputi
kandungan fisik-kimia.
4.
Kejelasan
Informasi yang diungkap
Mengungkapkan informasi berupa fakta yang dikembangkan
menjadi konsep, prinsip, maupun hukum. Beberapa fakta yang diungkapkan dari
hasil penelitian dapat membantu siswa untuk menambah referensi dari hasil
penelitian.
5.
Kejelasan
Pedoman Eksplorasi
Eksplorasi merupakan kegiatan mengumpulkan data,
misalnya dengan cara pengamatan yang nantinya dijadikan bahan diskusi untuk menarik
suatu kesimpulan yang dimodifikasi menjadi LKPD, namun harus sesuai panduan
dengan silabus yang ada dan materi yang sesuai dengan penelitian.
6.
Kejelasan
Perolehan
Pemanfaatan
penelitian dapat dilihat dari pengembangan keterampilan, pengembangan sikap,
dan pengembangan konsep.
Dengan memperhatikan keenam syarat pemanfaatan
tersebut maka jelaslah penelitian dapat dijadikan sebagai sumber belajar karena
dari segi proses dan produk yang merupakan makna sumber belajar biologi,
keduannya dapat dicapai sekaligus. Makna sumber belajar dari segi proses yang
dapat dicapai ialah berkaitan dengan kepentingan pengembangan keterampilan
belajar biologi dan dari segi produk berkaitan dengan kepentingan untuk
pengembangan terutamafakta dan konsep. Penyususna program instruksional dengan
memanfaatkan penelitian ini dapat dibagi dalam 2 tahap, yaitu: 22
a.
Analisis Hasil
Penelitian
Analisis Hasil penelitian meliputi proses (melibatkan
5 M) dan produk (mengungkapkan fakta, konsep, prinsip, dan hukum).
1)
Fakta merupakan
hasil nyata dari penelitian.
2)
Konsep merupakan
konsep yang dikembangkan berdasarkan komponen fakta.
3)
Prinsip
merupakan prinsip hasil penelitian.
4)
Hukum dalam
analisis penelitian adalah merumuskan hukum berdasarkan penelitian atau seperti
membuat kesimpulan umum.
b.
Pengembangan
dalam Organisasi Instruksional
1)
Seleksi materi
sesuai dengan silabus yang ditetapkan dan KD
2)
Perencanaan
dalam pembelajaran (pokok bahasan, sub pokok bahasan, KI, KD, indikator,
sasaran, metode, sarana, sumber, sistem interaksi, dan sistem evaluasi).
3)
Rancangan
kegiatan belajar mengajar (modifikasi dari penelitian, siswa yang berperan
aktif).
4)
Evaluasi proses
dan hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana perolehan belajar siswa meliputi
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.5. Hasil Penelitian yang Relevan
Dalam penelitian ini penulis memaparkan penelitian
terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti tentang plankton
sebagai alat pemantau kualitas air. Menurut Junaidi, dkk., (2013) dalam jurnal
penelitiannya yang berjudul “Komunitas Plankton Di Perairan Sungai Ogan
Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan” memaparkan bahwa hasil
penelitian didapatkan 81 spesies plankton yang terdiri dari 14 Kelas yaitu
Bacillariophyceae, Chloropyceae, Ciliatea, Coleochaetophyceae, Cyanophyceae,
Dinophyceae, Eurotatoria, Euglenoidea, Noctiluciphyceae, Trebouxiophyceae,
Tubulinea, Ulvophyceae, Xanthophyceae, dan Zygnematophyceae. Kelimpahan
Plankton pada perairan Sungai Ogan tergolong rendah-tinggi yaitu berkisar
antara 80 individu/liter - 325 individu/liter. Indeks keanekaragaman jenis
tergolong kategori sedang – tinggi yaitu berkisar antara 1,4 - 3,1. Indeks
Dominansi berkisar antara 0,05 - 0,4, yang menunjukan tidak adanya spesies
plankton yang melimpah dan berdasarkan nilai Indeks Kesamaan menunjukan bahwa
antar stasiun penelitian memiliki kesamaan yang rendah yaitu berkisar antara
12,86% - 60,46%.
Menurut Kamilah, dkk., (2014), dalam jurnal
penelitiannya yang berjudul “Keanekaragaman Plankton yang Toleran terhadap
Kondisi Perairan Tercemar di Sumber Air Belerang, Sumber Beceng Sumenep,
Madura” mendapatkan hasil menunjukkan terdapat 14 genus plankton yang terdiri dari
12 genus fitoplankton dan 2 genus zooplankton. Genus yang dominan dari golongan
fitoplankton adalah Melosira dan Leptocylindrus yang termasuk ke dalam kelas
Bacillariophyceae, serta genus yang mendominasi dari golongan zooplankton
adalah Aphelenchoides yang termasuk ke dalam kelas Secernentea. Indeks
keanekaragaman plankton di Sumber Beceng adalah 1,24, termasuk ke dalam
golongan perairan yang tercemar sedang karena indeks keanekaragamannya masih
dalam rentang 1,0 – 1,5.
Menurut Gunawan, dkk., (2015), dalam jurnal
penelitiannya yang berjudul “Evaluasi Kualitas Perairan Berdasarkan Diversitas
dan Struktur Komunitas Plankton Pada Kolam Bekas Tambang Batu Bara yang
Terdapat Aktivitas Keramba Ikan di Tenggarong Seberang” mendapatkan hasil
menunjukkan bahwa ada tiga kelas fitoplankton 14 famili dan 26 genus yang
terdapat di kolam penambangan batu bara, sedangkan zooplankton di kolam hanya
terdapat 2 famili dan 4 genus. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner (H'),
keragaman plankton di tambak batubara tanpa aktivitas ikan lebih tinggi dari
pada kolam dengan keramba ikan yang terdaat ikan, yaitu 24.008 dan 21.195
masing-masing. Artinya kualitas air di kedua tambak tersebut cukup sedang.
Berdasarkan Indeks Dominasi Simpson (D), tidak ada dominasi spesimen plankton
di kedua kolam penambangan batu bara.
Menurut Abadi, dkk., (2010), dalam jurnal
penelitiannya yang berjudul “Analisa Kualitas Perairan Sungai Klinter Nganjuk
Berdasarkan Parameter Biologi (plankton)” menunjukan hasil bahwa pada tiga
stasiun didapatkan 3 divisi plankton yang terdiri dari divisi Chlorophyta
sebanyak enam jenis, Chrysophyta sebanyak sembilan jenis, dan Cyanophyta
sebanyak tiga jenis. Nilai kelimpahan tertinggi pada stasiun dua masing-masing
sebesar 371269.5 individu L-1, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada
stasiun 3 masingmasing sebesar 84354.2 individu L-1. Nilai indeks
keanekaragaman, keseragaman, dan saprobitas tertinggi terdapat pada stasiun 1
yakni sebesar 2.04 individu L-1, 0.18 individu L-1 dan -0.27 25 individu L-1.
Sedangkan keanekaragaman dan kemerataan, dan saprobitas terendah pada stasiun 2
masing-masing 0.55, 0.04, dan -2.49 individu L-1. Secara garis besar, kualitas
perairan sungai Klinter berdasarkan indeks keanekaragaman dan saprobitas
termasuk dalam katagori tercemar sedang sampai sangat berat.
Menurut Anwar (2014), dalam jurnal penelitiannya yang
berjudul “Studi Kelimpahan Dan Sebaran Phytoplankton Secara Horizontal (Kasus
Sungai Kuri Lompo Kabupaten Maros)” memaparkan bahwa hasil penelitian Hasil
penelitian menunjukkan kelimpahan phytoplankton pada tiga stasiun pengamatan
selama lima minggu penelitian diperoleh nilai rata-rata berkisar antara
18,5-24,5 ind/L dan menunjukkan nilai keanekaragaman yang sedang dengan kisaran
nilai 0,212171 ind/L-0,851241 ind/L yang kemudian menghasilkan nilai keseragaman
0,978082 ind/L pada daerah estuaria atau muara sungai yang tergolong tinggi,
daerah pemukiman dengan nilai 0,586516 ind/L dimana nilai tersebut
dikategorikan dalam nilai keanekaragaman yang sedang, dan daerah saluran tambak
atau kawasan perikanan yang memiliki nilai keanekaragaman yang tergolong rendah
dengan nilai 0,306099 ind/L. Pada daerah pemukiman terdapat jenis phytoplankton
yang mendominasi yaitu jenis navicula sp. dengan nilai tertinggi
0,851852 ind/L.
2.6.
Danau Sembuluh
Kabupaten Seruyan dengan ibukotanya Kuala Pembuang
merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas
wilayah 16.404 km2 yang terdiri dari kawasan hutan 11.354,02 km2(69,52%
terhadap luas Kabupaten Seruyan), luas rawa-rawa 733,49 km2(4,77% terhadap luas
Kabupaten Seruyan), luas sungai, danau dan genangan lainnya 605,81 km2 (3,99%
terhadap luas Kabupaten Seruyan) dan lahan yang sudah dibudidayakan seluas
3.512,68 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Seruyan pada pertengahan tahun 2008
berkisar ± 130.673 jiwa yang sebagian besar masyarakat pesisir ± 36.617 jiwa
(28,02% dari jumlah penduduk Kabupaten Seruyan) sehingga mayoritas mata
pencaharian penduduk di sektor kelautan dan perikanan.
Wilayah Kabupaten Seruyan dibelah oleh Sungai Seruyan
yang mengalir dari utara ke selatan dan bermuara ke laut jawa dengan panjang
sungai ± 350 km dan yang bisa dilayari 300 Km dengan anak sungai yaitu Anak
Sungai Danau Sembuluh panjang 76 km, anak Sungai Kalua Besar panjang 65 km,
Anak Sungai Manjul panjang 50 km, Anak Sungai Salau panjang 30 km, Anak Sungai
Pukun panjang 30 km, Anak Sungai S. Kale panjang 30 km. Danau yang terdapat di
Kabupaten Seruyan diantaranya: Danau Sembuluh, Danau Bakung, Danau Jahitan,
Danau Papudak, Danau Seluluk, Danau Burung, Danau Teruntum dll, sehingga
mayoritas mata pencaharian penduduk di sektor kelautan dan perikanan
Destinasi wisata kali ini adalah Danau Sembuluh.
Sebuah danau yang merupakan danau terbesar di Kalimantan Tengah dengan luas
7.832,5 ha dan memiliki panjang sejauh 35,68 km. Danau ini merupakan tempat
bermuaranya sungai-sungai besar dan kecil seperti Kupang, Rungau, dan Ramania.
Di sekitar danau yang luasnya mencapai 2.424 km2 ini terdapat beberapa desa,
yaitu Sembuluh I, Sembuluh II, Bangkal dan Terawan. Saat kemarau seperti
sekarang adalah waktu yang tepat untuk berlibur ke Danau Sembuluh, karena
pinggiran danau yang mempunyai pasir putih akan lebih tampak dan menambah indah
nuansa matahari terbenam (sunset). Adanya aktivitas masyarakat yang melakukan
pembuatan kapal kayu/pinisi menjadi daya tarik tersendiri dan cocok untuk
dijadikan obyek hunting foto para penggemar fotografi
Potensi yang dimiliki danau ini adalah memiliki
pinggiran danau yang berpasir sehingga dapat dijadikan tempat berlabuh dan
wisata, potensi perikanan yang tinggi, dan terdapat beberapa desa yang berada
di pinggiran danau. Danau sembuluh yang luas ini juga meliputi beberapa danau
kecil yang berupa perairan anak sungai yang berbentuk danau yang lebih kecil
dengan aliran sungai yang kembali ke aliran utama dan atau aliran sungai mati.
Jenis ikan yang terdapat di danau ini adalah ikan
betutu, gabus-gabusan, jelawat, seluang, sepat, lais, baung, botia, toman,
tabakang, dan tapah. Beberapa kegiatan yang dilakukan disekitar danau meliputi
industri galangan kapal, perkebunan kopi dan karet, peternakan, serta perikanan
tangkap dan budidaya keramba.Untuk mencapai danau tersebut dari Palangkaraya,
ibukota Kalimantan Tengah, dapat dicapai menggunakan kendaraan darat sejauh 240
km menuju Sampit, dan dari Sampit menuju Desa sembuluh sejauh 130 km.
BAB III
PENUTUP
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah
dengan memilih Kota Palangkaraya dan tiga kabupaten penghasil labi-labi lainnya
yaitu Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Seruyan (Gambar
1).
Gambar 1 Peta lokasi
penelitian.
3.1 Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan ibukotanya
Palangkarayasecara geografis terletak di daerah khatulistiwa yaitu pada 000 45’
LU – 030 30’LS dan 1110 BT – 1150 BT, yang luas wilayahnya mencapai 153.564 km2
atau 1,5kali Pulau Jawa dan merupakan provinsi terluas ketiga di Indonesia
setelah Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Papua. Kalimantan Tengah pada
bagian utara berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, bagian
timur berbatasan dengan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, bagian selatan
berbatasan dengan Laut Jawa, dan sebelah barat berbatasan dengan Kalimantan
Barat. Kalimantan Tengah saat ini terdiri dari 13 kabupaten dan satu kota
dengan 85 kecamatan yang terdiri dari 1.340 desa dan 101 kelurahan. Rincian
kabupaten di Kalimantan Tengah
No Kabupaten/Kota Luas % Terhadap Jumlah
Jumlah
Km2 Luas kalteng kecamata Desa
1 Murung Raya 23.700
15,43 5 118
2 Barito Utara 8.300
5,40 6 102
3 Barito Selatan 8.830 5,75 6 95
4 Barito Timur 3.834 2,50
6 68
5 Kapuas 14.999
9,77 12 184
6 Gunung Mas 10.804 7,04
11 117
7 Pulang Pisau 8.997 5,86
8 98
8 Palangka Raya 2.400 1,56 5 30
9 Kotawaringin Timur 16.496 10,74 13 159
10 Seruyan 16.404 10,68 5
91
11 Katingan 17.800
11,59 11 153
12 Kotawaringin Barat 10.759 7,01 6
78
13 Lamandau 6.414 4,18
8 83
14 Sukamara 3.827
2,49 3 31
JUMLAH
153.564 100,00 105 1.407
Sumber : BPS Provinsi Kalteng 2010
Menurut
Oldeman et al. (1980) dalam MacKinnon et al. (2000),
agroklimat di Kalimantan Tengah terdiri dari 4 klas, yaitu (1) Klas A di bagian
utara Kalteng, yaitu lebih dari 9 bulan basah berurutan; (2) Klas B1 di Kalteng
bagiantengah, yaitu 7-9 bulan basah berurutan dan satu bulan kering; (3) Klas
C1, yaitu 5-6 bulan basah berurutan dan 2-4 bulan kering; (4) C2 di Kalteng
bagian selatan,yaitu 5-6 bulan basah berurutan dan 5-6 bulan kering. Suhu udara
dapat mencapai 230 C pada malam hari dan 330 C pada siang hari, dan penyinaran
matahari 60%per tahun. Musim penghujan biasanya dimulai pada bulan Agustus dan
berlangsung sampai bulan Mei, puncaknya pada bulan Nopember dan April. Iklim
yang relatif lebih kering dimulai dari bulan Juni sampai bulan Agustus.
Berdasarkan
peta ketinggian dalam data pokok untuk pembangunan(Bappeda TK.I Kalteng,
1993/1994), diketahui bahwa proporsi ketinggian Kalimantan Tengah adalah
sebagai berikut: ketinggian 0-7 mdpl seluas 13,81 %,7-25 mdpl seluas 15,23%,
25-100 mdpl seluas 42,12%, 100-500 mdpl seluas 20,96%, dan > 500 mdpl seluas
7,88%. Sedangkan berdasarkan kelerengan terdiri dari 32,97% kelerengan 0-2%,
28,86% kelerengan 2-15%, 28,34% kelerengan 15-40%, dan 9,83% kelerengan >
40%. Tanah di Kalteng meliputi jenis jenis organosol, gley dan humus (OGH),
aluvial (komplek alluvial hidromorfile, aluvial marine), regosol (asosiasi
regosolpodsolik), podsolik merah kuning (PMK), podsol, latosol, litosol, dan
laterit. Distribusi terbesar adalah jenis PMK dengan total luas sekitar 42,40%
dari total luas Kalteng (BPS Provinsi Kalteng 2010).
Kalimantan
Tengah menjadi Provinsi dengan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) paling
rendah di Kalimantan. Perhitungan IKLH terdiri dari 3 parameter penilaian
kualitas lingkungan yaitu terdiri dari kualitas air sungai, kualitas udara dan
tutupan hutan. IKLH Kalimantan Tengah hanya 45,7% dibawah angka rata-rata
nasional 59,73%. Kalteng berada di urutan kedua paling bawah dari 28 provinsi
yang diberi indeks, satu posisi di atas Jakarta. Hal yang membuat indeks
Kalteng anjlok ke peringkat 27 adalah karena kualitas airnya yang cukup
rendah, hanya 2,92%. Sedangkan kualitas udaranya bagus yaitu 93,71%,
nilai tutupan lahan berada pada level sedang (40,48%). Salah satu penyebab rendahnya kualitas air adalah cukup
besarnya kandungan air raksa dalam sungai di Kalteng. Hal lainnya adalah tidak
terkendalinya pemanfaatan atau pengalihfungsian hutan untuk perkebunan kelapa
sawit. Sungai memegang peranan penting sebagai sarana transportasi yang dominan
dan sebagai urat nadi aktivitas ekonomi di Kalteng. Hampir seluruh wilayah
Kalteng dialiri oleh sungai besar dan kecil yang mengalir dari utara keselatan
dan bermuara di Laut Jawa. Terdapat 11 sungai besar dengan panjang bervariasi
antara 175 sampai 900 km dengan rata-rata kedalaman 8 m. Selain itu, terdapat
tidak kurang dari 33 sungai kecil/anak sungai mengalir membelahdaerah-daerah di
Kalteng. Sebagian besar penduduk bermukim dan menetap di daerah pinggiran
sungai bagian hilir. Daerah-daerah lain yang jauh dari aliran sungai pada
umumnya jarang dihuni.
Dayak merupakan sebutan bagi komunitas penduduk yang
mendiami Pulau Kalimantan. Komunitas Dayak ini terdiri atas sub-sub suku
(tribals) yang dibedakan dari bahasa, kesenian, tradisi dan tempat pemukiman.
Pembagian berdasarkan komunitas Dayak terbesar menurut Ave & King (1986) adalah
Dayak Iban yang ditemukan di Serawak, Brunei, Sabah dan Kalimantan Barat; Dayak
Ngaju yang mendiami Kalteng; dan Dayak Kayan-Kenyah yang terdapat di Kalimantan
Timur. Suku Dayak di Kalimantan terdiri dari tujuh suku, dari ketujuh suku
dayak tersebut, di Kalteng terdapat paling sedikit 3 suku dengan tujuh anak
sukunya yaitu suku Dayak Ngaju Ma’anyan, Dusun dan Lawangan yang menyebar di Kalteng bagian tengah sampai ke bagian timur; suku Dayak Ot
Danum yang bermukim di Kalteng bagian utara; dan suku Dayak Klemantan/Dayak
Darat dengan anak suku Dayak Klemantan/Dayak Darat dan Dayak Ketungau yang
menyebar di Kalteng bagian barat.Mencari ikan merupakan salah satu kegiatan
yang dilakukan oleh kebanyakan Suku Dayak.
Jenis ikan yang banyak didapat adalah ikan baung (Mystus
nemurus), lais (Cryptopterus cryptopterus), behau/gabus (Channastriata),
miau (Channa lucius), kakapar (Belontia hasselti), saluang (Rasbora
caudimaculata), banta (Osteochillus microcephalus), papuyu (Anabas
testudineus), pentet/lele (Clarias batrachus), manjuhan/jelawat (Leptobarbus
hoevenii), tampahas (Walago leerii), banangin (Osteochillus
vittatus), serta kurakura jenis bere/labi-labi (A. cartilaginea).
Kegiatan mencari ikan dimulai di awal musim kemarau (tampara mandang) antara
bulan Mei-Juni setiap tahun. Ini adalah saat ketika ikan harus keluar ke daerah
rawa-rawa (dapu) mencari air yang lebih dalam. Pola pemenuhan kebutuhan dasar
suku Dayak Ma’anyan terkait erat dengan pemanfaatan hutan, sungai dan danau.
Pencarian ikan dilakukan pada musim penghujan atau ketika air naik, yakni bulan
Desember-Januari. Ikan dikeringkan dan diasinkan sebagai persediaan lauk pauk.
Jenis ikan sungai/rawa yang sering didapat adalah baung, kakapar, patung, puyu,
saluang. Alat menangkap ikan relatif sederhana terbuat dari kayu dan bambu yang
diperoleh dari hutan di sekitar desa, dan dibuat pancing (pintan), nabing,
marengge, wuwu/ lukah, nyalambau, lunta, pangilar, kabam. Pada musim kemarau,
warga desa dapat menangkap ikan langsung dengan tangan (bagagap). Kegiatan ini
dilakukan pada daerah luau atau daerah-daerah di hutan/danau yang airnya
mengering. Jika pola yang sama dilakukan dengan menggunakan alat, sauk, maka
cara ini disebut sebagai nikep. Suku Dayak Ot Danum mencari ikan dilakukan
dengan cara memancing (mosi), jerat (naut atau mambanjur), menggunakan boka
(Takalalak atau manenan dalam Bahasa Dayak Ngaju): biasanya perangkap ikan ini
dipasang menghadap ke ngaju atau hilir, buwu biasanya dipasang menghadap ke
hulu.
3.2 Kota
Palangkaraya
Kota Palangkaraya terletak antara 1130 30’ – 1140 07’
Bujur Timur dan 10 35’ – 20 24’ Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 35
m dpl. Luas wilayah Kota Palangkaraya sebesar 2.678, 51 km2. Penggunaan lahan
di Kota Palangkaraya terdiri dari kawasan hutan 2.485,75 km2; tanah pertanian
12,65 km2; pemukiman 45,54 km2; perkebunan 22,30 km2; sungai dan danau 42,86
km2; dan lain-lain 69,41 km2. Kota Palangkaraya terdiri dari 5 kecamatan dan 30
kelurahan. Jumlah penduduk Kota Palangkaraya pada tahun 2009 mencapai 200.998
jiwa yang terdiri dari 99.032 laki-laki dan 101.966 perempuan. Kepadatan
penduduk Kota Palangkaraya adalah 75 jiwa/km2. Secara garis besar Kota
Palangkaraya merupakan dataran rendah dan dibelah oleh sungai besar yaitu
Sungai Kahayan. Luas sungai dan danau di Kota Palangkaraya sebesar 42,86 km2.
3.3 Kabupaten
Katingan
Kabupaten Katingan secara geografis berada di daerah
Khatulistiwa, yaitu terletak diantara 112° 0’Bujur Timur – 0°20 Lintang Selatan
dan 113° 45’ Bujur Timur - 30° 30’ Lintang Selatan dengan luas ± 17.500 km2.
Penggunaan lahan di Kabupaten Katingan terdiri dari: hutan 2.538,16 km²;
pemukiman 192,85 km²; sawah 753,27 km²; tanah kering 1.098,47 km²; perkebunan
372,77 km²; industry 31,56 km²; hutan sekunder 8.544,03 km²; perairan dan
lainnya 1.931,19 km². Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan. Jumlah
penduduk Kabupaten Katingan pada tahun 2009 mencapai 148.912 jiwa yang terdiri
dari 77.557 lakilaki dan 71.355 perempuan. Katingan adalah sebuah nama aliran
sungai yang membentang dari laut jawa kearah utara hingga mencapai perbatasan
Kalimantan Barat. Kabupaten Katingan memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan
panjang 650 km dengan lebar ratarata 200 m dengan luas perairan 1.704.400 ha,
terdiri dari danau 44 buah dengan luas 1.824 ha serta rawa sebanyak 56 buah
yang terbentuk di kiri dan kanan daerah aliran sungai. Kawasan-kawasan ini
mempunyai potensi untuk perikanan budidaya, tangkap dan daerah konservasi (closed
season) atau daerah reservart serta dapat pula menjadi bisnis agro
wisata.
3.4 Kabupaten
Kotawaringin Timur
Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki luas wilayah
16.496 km². Penggunaan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri dari:
hutan 4.118,98 km²; hutan mangrove 100,01 km²; hutan rawa 1.877,66 km²;
perkebunan 1.741,86 km²; pemukiman 41,47 km²; pertambangan 75,34 km²; sawah
397,62 km²; lading 124,11 km²; kebun campuran 314,19 km²; semak belukar
3.727,13 km²; rawa belukar 1.743,59 km²; tanah terbuka 835,99 km²; transmigrasi
257,19 km²; badan air 128,98 km²; lain-lain 1.011,87 km². Kabupaten
Kotawaringin Timur terdiri dari 13 kecamatan dimana 3 diantaranya terletak di
wilayah pesisir, 148 desa/kelurahan, terletak antara posisi 111°0’50” -
113°0’46” Bujur Timur dan 0°23’14” - 3°32’54” Lintang Selatan. Jumlah penduduk
Kabupaten Kotawaringin Timur pada tahun 2009 mencapai 373.842 jiwa yang terdiri
dari 197.213 laki-laki dan 176.629 perempuan. Sungai besar dan penting yang
melintasi kabupaten kotawaringin Timur adalah sungai mentaya. Sepanjang sungai
tersebut terdapat anak-anak sungai, danau dan rawa yang potensial sebagai
sumber usaha bagi masyarakat nelayan tradisional dan pembudi daya ikan. Wilayah
muara dari sungai mentaya merupakan teluk yang relatif luas dengan hutan
mangrove relatif asli dengan luas 10.001 ha dan perairan teluk estuarine seluas
118 km2.
3.5 Kabupaten
Seruyan
Kabupaten Seruyan dengan ibukotanya Kuala Pembuang
merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas
wilayah 16.404 km2 yang terdiri dari kawasan hutan 11.354,02 km2 (69,52% terhadap
luas KabupatenSeruyan), luas rawa-rawa 733,49 km2 (4,77% terhadap luas
Kabupaten Seruyan luas sungai, danau dan genangan lainnya 605,81 km2 (3,99%
terhadap luas Kabupaten Seruyan) dan lahan yang sudah dibudidayakan seluas
3.512,68 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Seruyan pada pertengahan tahun 2008
berkisar ± 130.673 jiwa yang sebagian besar masyarakat pesisir ±
36.617 jiwa (28,02% dari jumlah penduduk Kabupaten Seruyan) sehingga mayoritas
mata pencaharian penduduk di sektor kelautan dan perikanan. Wilayah Kabupaten
Seruyan dibelah oleh Sungai Seruyan yang mengalir dari utara ke selatan dan
bermuara ke laut jawa dengan panjang sungai ± 350 km dan yang bisa dilayari 300
Km dengan anak sungai yaitu Anak Sungai Danau Sembuluh panjang 76 km, anak
Sungai Kalua Besar panjang 65 km, Anak Sungai Manjul panjang 50 km, Anak Sungai
Salau panjang 30 km, Anak Sungai Pukun panjang 30 km, Anak Sungai S. Kale
panjang 30 km. Danau yang terdapat di Kabupaten Seruyan diantaranya: Danau
Sembuluh, Danau Bakung, Danau Jahitan, Danau Papudak, Danau Seluluk, Danau
Burung, Danau Teruntum dll, sehingga mayoritas mata pencaharian penduduk di
sektor kelautan dan perikanan

Komentar
Posting Komentar