MAKALAH HIDROLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI SERUYAN


MAKALAH REKAYASA HIDROLOGI
“HIDROLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI”
SUNGAI SERUYAN

Dosen :
Ridwan, MT



DI SUSUN OLEH :

“KELOMPOK 3”

ANANDA BUDIMANNUR     1722201000019
SAFIRA FIDARANI               1722201000023
SRI YUSKI                              1722201000016

YAYASAN WIJAYA KUSUMA
UNIVERSITAS DARWAN ALI
FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
Jalan A Yani No. 01 Kuala Pembuang Kab. Seruyan Kalimantan Tengah



KATA PENGANTAR
          Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang mana telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Tugas Hidrologi ini tepat waktu dan dengan sebagimana mestinya.

          Makalah Tugas Hidrologi ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat mempelancar pembuatan laporan ini. Untuk itu kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya saya kepada semua pihak yang memberikan bantuan, bimbingan dan pengarahan, khususnya kepada Bapak Ridwan, ST.,MT selaku dosen pembimbing dan juga teman-teman Fakultas Teknik yang telah telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya dalam pembuatan makalah ini.

          Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa tugas besar ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi materi maupun cara penulisannya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tang terbuka saya menerima segala saran dan kritikan yang membangun dari teman-teman semua.
          Akhir kata saya berharap semoga Makalah Tugas Hidrologi ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang Daerah Aliran Sungai bagi semua pihak.


Kuala Pembuang,           Desember 2018





Penyusun









BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Air merupakan salah satu kebutuhan pokok kehidupan sehari-hari yang tidak dapat terpisahkan, tidak hanya penting bagi manusia air merupakan bagian yang penting bagi makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan. Menurut Hendrayana dan Putra (2008), eksploitasi terhadap sumberdaya air secara berlebihan dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem air, dan akhirnya sulit untuk menyediakan air bersih baik secara kualitas dan kuantitas. Kebutuhan air tidak hanya tergantung pada kuantitas, namun tergantung juga pada kualitasnya. Menurut Sutanto dan Purwasih (2012), kualitas air adalah mutu air yang memenuhi standar dalam ambang batas yang telah ditentukan untuk tujuan tertentu. Syarat yang ditetapkan untuk memenuhi standar mutu air berbeda-beda tergantung tujuan penggunaan, sebagai contoh, air yang digunakan untuk konsumsi memiliki standar mutu yang berbeda dengan air irigasi pertanian. Oleh karena itu masalah air yang dihadapi di masa sekarang adalah jumlah dan kualitas air yang semakin menurun, sedangkan kebutuhan air semakin meningkat.
Sungai merupakan suatu aliran air yang besar dan memanjang mengalir secara terus-menerus dari sumber menuju muara, sungai juga memiliki peranan penting dalam kehidupan setiap makhluk hidup. Menurut Setiawan (2009), sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang memiliki peran penting dalam daur hidrologi serta berfungsi sebagai daerah tangkapan air (Catchment area) bagi 2 daerah sekitarnya, sehingga kondisi suatu sungai dapat dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki oleh lingkungan sekitar. Menurut Rohatin dan Nurjanah (2011), sungai merupakan ekosistem terbuka yang selalu mendapat masukan energi dan materi dari ekosistem yang ada di sekitarnya. Bentuk materi yang masuk ke sungai dapat berupa materi organik maupun anorganik. Materi yang masuk ke sungai dapat menyebabkan pencemaran ataupun tidak, tergantung dari kadarnya.
Masuknya bahan pencemar ke dalam sungai dapat mengubah berbagai kondisi fisik maupun kimia dari lingkungan tersebut, sehingga bahan pencemar ini dapat mengubah keragaman komunitas air yang terdapat di sungai, karena organisme-organisme yang berada dalam suatu lingkungan tersebut tidak semua toleran terhadap tekanan kondisi lingkungan tersebut, melainkan mempunyai ambang batas toleransi sendiri. Menurut Arisandi (2012), degradasi dan penurunan kualitas daya dukung lingkungan dapat mengubah stuktur dan fungsi dari suatu komunitas yang ada disekitar lingkungan, dan perubahan yang terjadi bergantung pada kemampuan toleransi masing–masing spesies penyusunnya. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 menjelaskan bahwa kualitas air ditentukan berdasarkan keadaan air dalam keadaan normal, dan bila terjadi suatu penyimpangan diatas ambang batas peruntukannya dapat disebut sebagai air yang mengalami pencemaran, atau disebut sebagai air terpolusi.
Pemda Kabupaten Seruyan (2016), sungai yang terdapat di Kabupaten Seruyan adalah sungai seruyan. Sungai Seruyan dengan panjang sekitar 350 km, merupakan sungai utama, dari Sungai Seruyan ada 6 (enam) buah anak sungai yang besar dan dapat digunakan sebagai sumber air maupun sebagai sarana transportasi.
Keenam anak sungai tersebut adalah sungai Kale, Pukun, Salau, Manjul, Kuala Besar dan Danau Sembuluh. Air sungai tersebut telah dimanfaatkan oleh penduduk kakus (MCK), pembuangan limbah rumah tangga, irigasi persawahan, memandikan ternak, dan membuang kotoran ternak yang secara terus menerus dapat berpotensi mengakibatkan pencemaran. Selain itu yang berpotensi mengakibatkan pencemaran di sungai Seruyan yaitu penangkapan ikan menggunakan racun dalam jumlah skala yang besar serta masuknya limbah pabrik kelapa sawit.
Data dari Badan Pusat Statistik (2015), Provinsi Kalimantan Tengah memiliki 145 perusahaan      (1 perkebunan besar negara dan 144 perkebunan besar swasta). Kabupaten Seruyan merupakan daerah yang memiliki perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan jumlah 35 perusahaan yang jumlahnya hampir sama dengan Kotawaringin Timur, merupakan jumlah perusahaan terbanyak yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah. Usaha perkebuanan kelapa sawit yang semakin pesat, serta pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pesatnya pertumbuhan pabrik CPO menyebabkan limbah yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit semakin besar.
Hadiyanto (2011), menyatakan bahwa limbah POME (Palm Oil Mill Effluent) adalah limbah cair kelapa sawit yang saat ini masih menjadi suatu masalah dan belum termanfaatkan secara optimal. Limbah POME banyak diperoleh dari sisa proses pembuatan CPO (Crude Palm Oil), 1 ton kelapa sawit akan menghasilkan 50-60% POME dan 20% CPO. Permasalahan utama dari limbah cair ini adalah tingginya konsentrasi BOD, COD dan total solid, sehingga mengakibatkan limbah ini tidak dapat dibuang langsung ke lingkungan. Menurut Hudha, dkk,. (2012), jika 4 angka BOD meningkat kebutuhan oksigen agar mikroorganisme dapat mengurai bahan-bahan organik juga meningkat, ketika oksigen yang dibutuhkan tidak mencukupi untuk mengurai bahan-bahan organik sementara limbah industri terus-menerus dibuang ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu akan menimbulkan pencemaran yang berpengaruh terhadap kualitas air sungai.
Penangkapan ikan dengan menggunakan racun dalam skala besar juga dapat menimbulkan pencemaran yang berpengaruh terhadap kualitas air sungai yang berada di Kabupaten Seruyan. Racun yang digunakan sebagian besar adalah akar pohon tuba (Derris elliptica). Tuba memiliki kandungan zat beracun yang terdapat di dalam akar tuba. Menurut Rante, dkk., (2013), tanaman tuba yang sangat beracun bagi serangga dan ikan terletak pada bagian akar. Menurut Hutabarat, dkk., (2015) zat beracun yang terdapat pada akar tuba yaitu rotenon (C23H22O6), deguelin, tefrosin, dan toksikarol. Rotenon secara kimiawi digolongkan ke dalam kelompok flavonoid yang merupakan racun kuat bagi serangga dan ikan, 15 kali lebih beracun dibandingkan nikotin dan 25 kali lebih beracun dibanding Potassium ferrosianida.
Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari nilai saprobik dengan menggunakan fitoplankton sebagai alat pemantau kualitas perairan. Menurut Junaidi, dkk., (2013) plankton (fitoplankton) merupakan organisme melayang yang hidupnya dipengaruhi oleh arus air, fitoplankton dapat digunakan sebagai indikator perubahan biologis suatu perairan, karena kelompok biota perairan ini umumnya sangat sensitif terhadap perubahan suatu lingkungan dan siklus hidup yang dimiliki relatif singkat. Menurut Rizky, dkk., (2012), perubahan terhadap kualitas perairan, erat kaitannya dengan potensi perairan terutama ditinjau dari keanekaragaman, komposisi, dan nilai saprobitas fitoplankton. Keberadaan jenis fitoplankton tertentu pada suatu perairan dapat memberikan berbagai informasi mengenai kondisi perairan bersangkutan dalam keadaan bersih atau tercemar, sehingga fitoplankton sebagai parameter biologi dapat dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas suatu perairan.
Wijaya dan Hariyati (2009), fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan suatu perairan (bioindikator). Pengkajian kualitas biologis ini sangat penting karena fungsi akumulatifnya dapat mengantisipasi perubahan lingkungan yang terjadi di suatu wilayah tertentu. Menurut Rahayu dan Astria (2012), fitoplankton adalah kelompok flora yang memiliki kemampuan berfotosintesis karena sel pada tubuhnya mengandung klorofil. Fitoplankton berperan penting di perairan, yaitu sebagai penyedia oksigen, selain dari tumbuhan air dan atmosfir sumber oksigen terbesar (90-95%) di perairan adalah hasil dari fotosintesis fitoplankton.
Maka dari permasalahan-permasalahan tersebut diharapkan dengan penelitian penggunaan indeks saprobik sebagai pemantau kualitas lingkungan air sungai Seruyan dapat memberikan gambaran terhadap kondisi umum kualitas perairan sungai Seruyan serta membuat masyarakat sadar dan mengetahui dampak negatif bagi biota dalam sungai dan makhluk hidup lainnya dari pembuangan limbah pabrik dan penggunaan racun ikan. Akumulasi pencemaran akibat aktivitas yang terjadi di badan sungai ini memberikan dampak negatif bagi biota yang hidup di dalam sungai, sehingga organisme yang tidak tahan dengan kondisi lingkungan tersebut akan mati dan penelitian mengenai kualitas air dengan menggunakan fitoplankton belum pernah dilakukan di sungai Seruyan. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka peneliti terdorong untuk mengadakan penelitian dengan judul “Penggunaan Indeks Saprobik Sebagai Pemantau Kualitas Air Sungai Seruyan Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah Dan Kajian Potensi Sebagai Sumber Belajar Biologi”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut
1.             Bagaimana keanekaragaman genus fitoplankton di sungai Seruyan?
2.             Bagaimana kualitas air sungai Seruyan berdasarkan parameter fisik?
3.             Bagaimana kualitas air sungai Seruyan berdasarkan parameter kimia?
4.             Bagaimana kualitas air sungai Seruyan berdasarkan parameter biologi dengan menggunakan indeks saprobik?
5.             Bagaimana pemanfaatan hasil dari penelitian yang dijadikan sebagai sumber belajar biologi?
6.             Bagaimana pemanfaatan danau Sembuluh?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini berdasarkan rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.             Mengetahui keanekaragaman genus fitoplankton yang ditemukan di sungai Seruyan.
2.             Menganalisis kualitas air sungai Seruyan berdasarkan parameter fisik.
3.             Menganalisis kualitas air sungai Seruyan berdasarkan parameter kimia.
4.             Menganalisis kualitas air sungai Seruyan berdasarkan parameter biologi dengan menggunakan indeks saprobik.
5.             Mengetahui manfaat hasil dari penelitian yang dijadikan sebagai sumber belajar biologi.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1.             Secara Teoritik
a.    Untuk mengembangkan keilmuan dalam mata kuliah Pengetahuan Lingkungan, Ekologi dan Invertebrata.
b.    Penelitian ini diharapkan dapat mendorong perkembangan ilmu-ilmu biologi khususnya bidang lingkungan tentang pencemaran lingkungan.
2.             Secara Praktis
a.    Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengaruh fitoplankton sebagai alat identifikasi untuk menentukan kualitas air sungai.
b.    Memberikan informasi kepada masyarakat tentang dampak negatif yang diakibatkan oleh limbah buangan domestik maupun industri.
c.    Sebagai seorang guru, memberikan wawasan kepada peserta didik tentang penerapan ilmu biologi pada kehidupan sehari-hari terutama pada bidang lingkungan.
1.5. Batasan Penelitian
1.             Parameter yang diteliti dari penelitian ini yaitu parameter biologi Indeks Saprobik (fitoplankton).
2.             Parameter fisik (Kekeruhan, Kuat Arus, dan Temperatur) dan kimia (pH, BOD, dan DO) menjadi data pendukung.
3.             Lokasi penelitian ini berada di sepanjang daerah aliran sungai Seruyan wilayah Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Adapun lokasinya antara lain adalah:
a.    Sumber anakan sungai Seruyan yaitu sungai Tarus yang mana anakan sumber sungai ini memiliki potensi tercemar akibat pembuangan limbah perusahaan pabrik kelapa sawit.
b.    Sungai indukan yaitu sungai Seruyan dari hulu sebelum sumber anakan sungai masuk keindukan sungai, sungai bagian tengah setelah sumber anakan sungai masuk keindukan sungai, dan hilir sesudah sungai bagian tengah dengan jarak 5 km setelah pengambilan sampel.
1.6. Definisi Istilah
1.             Indeks saprobik merupakan indeks yang digunakan untuk mengetahui status pencemaran pada suatu perairan dengan menggunakan keberadaan organisme seperti komposisi fitoplankton di perairan (Sagala, 2011).
2.             Pemantau merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengamati atau mengawasi terutama untuk tujuan khusus (Setiawan, 2009).
3.             Kualitas Air adalah suatu ukuran kondisi air dilihat dari karakteristik fisik, kimiawi, dan biologisnya (PP RI Nomor 82, 2001).
4.             Sumber belajar adalah segala sesuatu baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam kegiatan belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar    (Abdulah, 2012).














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Tentang Air Sungai
2.1.1. Pengertian Air Sungai
Sungai merupakan saluran terbuka yang terbentuk secara alami di atas permukaan bumi, tidak hanya menampung air tetapi juga mengalirkannya dari bagian hulu menuju ke bagian hilir dan ke muara (Junaidi, 2014). Menurut Putra (2014), sungai dapat diartikan sebagai aliran terbuka dengan ukuran geometrik (tampak lintang, profil memanjang dan kemiringan lembah) berubah seiring waktu, tergantung pada debit, material dasar dan tebing, serta jumlah dan jenis sedimen yang terangkut oleh air. Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sungai merupakan wadah atau alur alami maupun buatan yang didalamnya tidak hanya menampung air akan tetapi juga mengalirkan mulai dari hulu menuju muara.
Menurut Junaidi (2014), proses terbentuknya sungai berasal dari mata air yang mengalir di atas permukaan bumi. Proses selanjutnya aliran air akan bertambah seiring dengan terjadinya hujan, karena limpasan air hujan yang tidak dapat diserap bumi akan ikut mengalir ke dalam sungai. Perjalanan dari hulu menuju hilir, aliran sungai secara berangsur-angsur menyatu dengan banyak sungai lainnya, Penggabungan ini membuat tubuh sungai menjadi semakin besar. Peraturan Pemerintah RI No. 38 tahun 2011, suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan disebut dengan daerah aliran sungai (DAS). Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang SDA memaparkan bahwa DAS memiliki bagian yang disebut dengan sub DAS yaitu yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub-sub DAS. Adapun pada sempadan sungai memiliki aturan untuk perlindungan kawasan sungai dan sekitarnya sungai yang terdapat di kawasan sendiri dengan sempadan 5 – 10 meter berupa jalur hijau atau jalan inspeksi. Menurut Asdak (2007: 4), DAS merupakan suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya kelaut melalui sungai utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (catchment area) yang merupakan suatu ekosistem yang unsur utamanya terdiri atas sumber daya alam (tanah, air dan vegetasi) dan sumber daya manusia sebagai pemanfaat sumber daya alam.
Norhadi, dkk., (2015) dalam penelitian mengklasifikasikan sungai menurut para ahli maupun lembaga seperti Kern, Okologie, Helfrich et al, dan LFU. Kern (1994) mengklasifikasikan sungai berdasarkan lebarnya, mulai dari kali kecil yang bersumber dari mata air hingga bengawan dengan lebar lebih dari 220 meter. Heinrich dan hergt dalam Atlas Okologie (1999) mengklasifikasikan sungai berdasarkan lebar sungai dan luas DAS. Sungai kecil disebut juga dalam bahasa inggris brooks, branceches, creeks, forks, dan runs, tergantung bahasa lokal masing-masing daerah yang ada. Semuanya berarti sungai kecil sedangkan terminologi yang membedakan antara sungai kecil (stream) dan sungai besar (river) hanya tergantung kepada pemberi nama pada pertama kalinya (Helfrichetal.dalam Atlas okologie, 1999). Selanjutnya sungai kecil didefinisikan sebagai air dangkal yang mengalir di suatu daerah dengan lebar aliran tidak lebih dari 40 m pada muka air normal, sedangkan kondisi yang lebih besar dari sungai kecil disebut sungai atau sungai besar. LfU (2000) mengklasifikasi sungai kecil atau sungai besar berdasarkan kondisi vegetasi alamiah di pinggirnya. Disebut sungai kecil bila dahan dan ranting vegetasi pada kedua sisi tebingnya bertautan dan dapat menutupi sungai yang bersangkutan. Sedangkan pada sungai besar, dahan vegetasi pada kedua sisi tebingnya tidak dapat bertautan karena terpisah cukup jauh.
2.1.2. Kualitas Air Sungai
Kualitas air adalah mutu air yang memenuhi standar untuk tujuan tertentu. Syarat yang ditetapkan sebagai standar mutu air berbeda-beda tergantung tujuan penggunaan, sebagai contoh, air yang digunakan untuk irigasi memiliki standar mutu yang berbeda dengan air untuk dikonsumsi. Kualitas air dapat diketahui nilainya dengan mengukur kondisi fisika, kimia dan biologi (Rahayu, 2009). Menurut Agustiningsih, dkk. (2012), kualitas air sungai dipengaruhi oleh kualitas pasokan air yang berasal dari daerah tangkapan sedangkan kualitas pasokan air dari daerah tangkapan berkaitan dengan aktivitas manusia. Kualitas air sungai dapat diamati dengan melihat status mutu air. Status mutu air menunjukkan tingkat kondisi mutu air sumber air dalam kondisi tercemar atau kondisi baik dengan membandingkan dengan baku mutu yang telah ditetapkan.
Menurut Mahyudin, dkk. (2015), status mutu air sungai menunjukan tingkat pencemaran suatu sumber air dalam waktu tertentu, dibandingkan dengan baku mutu air yang ditetapkan. Sungai dapat dikatakan tercemar apabila tidak dapat digunakan sesuai dengan peruntukaannya secara normal/keluar dari ambang batas yang telah ditentukan. Klasifikasi dan kriteria kualitas air di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001. Berdasarkan Peraturan Pemerintah, kualitas air diklasifikasikan menjadi empat kelas yaitu:
1.             Kelas I: dapat digunakan sebagai air minum atau untuk keperluan konsumsi lainnya
2.             Kelas II: dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar,   peternakan dan mengairi tanaman
3.             Kelas III: dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan mengairi tanaman
4.             Kelas IV: dapat digunakan untuk mengairi tanaman
Kriteria kualitas air untuk tiap-tiap kelas didasarkan pada kondisi fisik-kimia, biologi dan radioaktif. Secara sederhana, kualitas air dapat diduga dengan melihat kejernihan dan mencium bau pada air. Namun terdapat bahan-bahan pencemar yang tidak dapat diketahui hanya dari bau dan warna, melainkan harus dilakukan serangkaian pengujian. Hingga saat ini, dikenal ada dua jenis pendugaan kualitas air yaitu fisik-kima dan biologi (Rahayu, 2009).
2.1.3. Pencemaran Air
Perairan merupakan suatu ekosistem yang kompleks sebagai habitat dari semua jenis makhluk hidup, mulai dari ukuran mikro hingga makro. Perairan yang alami memiliki sifat yang dinamis dan aliran energi yang kontinu selama sistem didalamnya tidak mengalami gangguan atau hambatan seperti pencemaran (Lukman, 2006). Menurut Nugroho (2006), pencemaran air dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman organisme perairan seperti benthos, perifiton, serta plankton. Hal ini menyebabkan sistem ekologis perairan dapat terganggu. Sistem ekologis perairan mempunyai kemampuan untuk memurnikan kembali lingkungan yang telah tercemar sejauh beban pencemaran masih berada dalam batas daya dukung lingkungan yang bersangkutan.
Secara mudah air tercemar dapat dilihat dengan mudah, melalui kondisi fisik air, misalnya dilihat dari tingkat kekeruhan, warnanya yang transparan dan tembus cahaya, atau dari baunya yang menyengat hidung. Air tercemar juga dapat diketahui dari matinya atau terganggunya organisme perairan, seperti ikan, tanaman, dan hewan-hewan yang berhubungan dengan air terebut (Herlambang, 2006). Menurut Peraturan Pemerintah NO. 82/2001, pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Dari kedua pendapat tentang definisi pencemaran air secara tersirat bahwa pencemaran air adalah berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu.
2.2. Tinjauan Umum Sungai Seruyan
Kabupaten Seruyan merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Kalimantan Tengah yang mana terdapat beberapa sungai yang digunakan dalam berbagai macam keperluan untuk kebutuhan makhluk hidup. Adapun daftar sungai yang ada di Kalimantan Tengah berdasarkan panjang, kedalaman dan lebar sebagai berikut:
Tabel 2.1 Nama-Nama Sungai menurut Panjang, Kedalaman dan Lebar Kalimantan Tengah
Nama Sungai
Panjang/Length
Rata-rata/Average
Kilometer (km)
Dapat dilayari/ be sailed (km)
Kedalaman/ Depth (meter)
Lebar/ Width (meter)
1.
Sungai Jelai
200
150
8
150
2.
Sungai Arut
250
190
4
100
3.
Sungai Lamandau
300
250
6
150
4.
Sungai Kumai
175
100
6-9
250
5.
Sungai Seruyan
350
300
5
250
6.
Sungai Mentaya
400
270
6
350
7.
Sungai Katingan
650
520
3-6
250
8.
Sungai Sebangau
200
150
5
100
9.
Sungai Kahayan
600
500
7
450
10.
Sungai Kapuas
600
420
6
450
11.
Sungai Barito
900
700
6-14
350-500
(Badan Pusat Statistik Kalteng, 2015).
Tabel di atas menunjukan bahwa sungai Seruyan merupakan salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Seruyan dengan panjang 350 km dan kedalaman 8 m serta memiliki lebar rata-rata 250 m, menjadikan sungai ini salah satu sungai besar yang terdapat di Kalimantan Tengah. Berdasarkan paparan dari Pemda Kabupaten Seruyan (2016), Sungai yang terdapat di Kabupaten Seruyan adalah sungai seruyan. Secara umum pola sungai di Kabupaten Seruyan adalah pola dendritik dimana salah satu sifat utamanya adalah apabila terjadi hujan merata di seluruh daerah aliran sungai, maka puncak banjirnya akan demikian tinggi hingga mempunyai potensi besar untuk menggenangi daerah yang ada di sekitar aliran sungai, khususnya di bagian hilir sungai. Sungai Seruyan dengan panjang sekitar 350 km, merupakan sungai utama yang mengalir dari pegunungan Schwaner di utara menuju Laut Jawa di bagian Selatan. Sungai Seruyan memiliki 6 (enam) buah anak sungai yang besar dan dapat digunakan sebagai sumber air maupun sebagai sarana transportasi. Keenam anak sungai tersebut adalah Danau Sembuluh, Kuala Besar, Manjul, Salau, Pukun, dan Kale.
2.3. Tinjauan Tentang Plankton
2.3.1. Pengertian Plankton
Secara sederhana plankton diartikan sebagai hewan dan tumbuhan renik yang terhanyut di suatu perairan. Nama plankton berasal dari akar kata Yunani “planet” yang berarti pengembara. Istilah plankton pertama kali diterapkan untuk organisme di laut oleh Victor Hensen direktur Ekspedisi Jerman pada tahun 1889, yang dikenal dengan “Plankton Expedition” khusus dibiayai untuk menentukan dan membuat sitematika organisme laut (Sunarto, 2008). Menurut Junaidi, dkk. (2013), istilah plankton pertama kali digunakan oleh Victor Hensen pada tahun 1887, berasal dari bahasa Yunani yang arti dalamya mengembara. Plankton adalah organisme renik yang melayang-layang dalam air atau mempunyai kemampuan renang yang sangat lemah, pergerakannya selalu dipengaruhi oleh gerakan masa air. Dari pendapat diatas maka dapat diartikan bahwa plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup melayang di perairan atau plankton merupakan organisme baik tumbuhan maupun hewan yang umumnya berukuran relatif kecil  (mikro), hidup melayang-layang di air, mempunyai daya gerak relatif lemah sehingga distribusinya sangat dipengaruhi oleh daya gerak air.
2.3.2. Klasifikasi Plankton Berdasarkan Pembagiannya
Plankton terdiri dari dua kelompok besar organisme akuatik yang berbeda yaitu organisme fotosintetik atau fitoplankton dan organisme non fotosintetik atau zooplankton (Sunarto, 2008). Menurut Rahayu dan Astria (2012), bahwa plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton. Zooplankton merupakan plankton kelompok fauna yang umumnya mampu bergerak aktif, sedangkan fitoplankton adalah kelompok flora yang mampu berfotosintesis karena sel tubuhnya mengandung klorofil.
1.             Fitoplankton
Menurut Sunarto (2008), fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian atas perairan (zona fotik) perairan terbuka dan lingkungan pantai. Penggolongan fitoplankton berdasarkan taksonomi dan ukurannya. Berdasarkan ukurannya ada beberapa golongan fitoplankton antara lain:
Tabel 2.2. Kelompok plankton berdasarkan kategori ukuran
Kelompok
Ukuran
Charton dan Tietjen (1989)
Nybakken (1988)
Kennish (1990)
Ultraplankton
< 5 μm
< 2 μm
< 5 μm
Nanoplankton
5- 50 μm
2- 20 μm
5-70 μm
Mikroplankton
50-500 μm
20 μm – 0,2 μm
70-100 μm
Mesoplankton
500 μm
-
-
Makroplankton
5000 μm- 50.000 μm
0,2-2 mm
70-100 μm
Megaplankton
> 50.000 μm
> 2 mm
> 100 μm
(Sunarto, 2008) 18
Sedangkan menurut Junaidi dkk. (2013), yang menyatakan fitoplankton terbagi berdasarkan ukuran plankton dalam lima golongan yaitu : nanoplankton yang berukuran 2-20 mm, ultrananoplankton organisme yang memiliki ukuran kurang dari 2 mm, mikroplankton berukuran 20-200 mm, makroplankton ialah organisme planktonik yang berukuran 200- 2000 mm dan megaplankton ialah organisme planktonik yang berukuran lebih dari 2000 mm.
2.             Zooplankton
Zooplankton merupakan plankton hewani yang terhanyut secara pasif karena terbatasnya kempuan bergerak. Berbeda dengan fitoplankton , zooplankton hampir meliputi seluruh filum hewan mulai dari protozoa (hewan bersel tunggal) sampai filum Chordata (hewan bertulang belakang). Para ahli kelautan juga mengklasifikasikan zooplankton sesuai ukuran dan lamanya hidup sebagai plankton. Ada tiga katagori ukuran zooplankton yang dikenal dengan mikrozooplankton, mesozooplankton, dan makrozooplankton. Mikrozooplankton meliputi zooplankton yang dapat melewati plankton net dengan mata 202 μm dan mesozooplankton adalah yang tersangkut sedangkan makrozooplankton dapat ditangkap dengan plankton net dengan lebar mata 505 μm (Sunarto, 2008). Berdasarkan siklus hidupnya menurut Gunawan (2015), zooplankton ada yang selamanya sebagai plankton (holoplankton) dan ada yang sebagian hidupnya (pada awal hidupnya) saja sebagai plankton (meroplankton). Organisme meroplankton terutama terdiri dari larva planktonik dan bentik invertebrata, bentik chordata dan nekton (ichtyoplankton).
2.3.3. Plankton Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan
Organisme perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran karena habitat, mobilitas dan umurnya yang relatif lama mendiami suatu wilayah perairan tertentu (Abadi dkk., 2010). Menurut Rahayu dan Astria (2012), Plankton adalah mikroorganisme yang ditemukan hidup melayang dan hidup bebas di perairan dengan pergerakan yang rendah. Organisme ini merupakan salah satu parameter biologi yang memberikan informasi mengenai kondisi perairan, baik kualitas perairan maupun tingkat kesuburannya.
Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari kelimpahan dan komposisi plankton serta nilai saprobitas fitoplankton. Keberadaan plankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai keadaan perairan. Menurut Junaidi, dkk., (2013), plankton merupakan organisme melayang yang hidupnya dipengaruhi oleh arus dan umumnya digunakan sebagai indikator perubahan biologis suatu perairan, karena kelompok biota perairan ini umumnya sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan siklus hidupnya relatif singkat. Plankton juga merupakan komponen utama dalam rantai makanan di perairan. Menurut Rizky, dkk., (2012), perubahan terhadap kualitas perairan, erat kaitannya dengan potensi perairan terutama ditinjau dari keanekaragaman dan komposisi plankton. Keberadaan jenis plankton tertentu pada suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perairan bersangkutan dalam keadaan bersih atau tercemar, sehingga plankton sebagai parameter biologi dapat dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas suatu perairan atau sebagai bioindikator. 
2.4. Hasil Penelitian Sebagai Sumber Belajar
Sumber belajar merupakan semua sumber seperti pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar yang dimanfaatkan peserta didik sebagai sumber untuk kegiatan belajar dan dapat meningkatkan kualitas belajarnya atau segala sesuatu yang berwujud benda dan orang yang dapat menunjang kegiatan belajar sehingga mencakup semua sumber yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh tenaga pengajar agar terjadi perilaku belajar (Abdullah, 2012). Sumber belajar dilihat dari 2 sudut pandang yakni proses dan produk. Proses dan produk dapat dikatakan sebagai sumber belajar, serta perlu mempertimbangkan syarat pemanfaatan sumber belajar seperti yang dirumuskan oleh Djohar (1987) yang meliputi:
1.             Kejelasan Potensi
Kejelasan potensi menjelaskan bagaiman obyek penelitian memiliki gejala dan permasalahan, jika obyek tersebut memberikan pengalaman belajar kepada siswa maka obyek penelitian dapat dijadikan sumber belajar. Obyek tersebut yang nantinya dapat dikaitkan dengan KI dan KD.
2.             Kesesuaian dengan Tujuan Belajar
Kesesuaian dengan tujuan belajar melibatkan 3 ranah (psikomotorik, afektif, dan kognitif) yang tidak bisa terlepas dari 5 M (mengamati, menanya, mengumpulkan data, menalar, dan mengomunikasikan/membuat kesimpulan). Tujuan KD pembelajaran harus sesuai KD yang nantinya dapat dibuat indikator.
3.             Kejelasan Sasaran
Kejelasan sasaran merupakan sasaran penelitian dari obyek penelitian. Misalnya dalam penelitian ini sasaran pengamatan adalah plankton meliputi jenisnya, densitas dan diversitas dari plankton. Sedangkan kualitas air yang diteliti meliputi kandungan fisik-kimia.
4.             Kejelasan Informasi yang diungkap
Mengungkapkan informasi berupa fakta yang dikembangkan menjadi konsep, prinsip, maupun hukum. Beberapa fakta yang diungkapkan dari hasil penelitian dapat membantu siswa untuk menambah referensi dari hasil penelitian.
5.             Kejelasan Pedoman Eksplorasi
Eksplorasi merupakan kegiatan mengumpulkan data, misalnya dengan cara pengamatan yang nantinya dijadikan bahan diskusi untuk menarik suatu kesimpulan yang dimodifikasi menjadi LKPD, namun harus sesuai panduan dengan silabus yang ada dan materi yang sesuai dengan penelitian.
6.             Kejelasan Perolehan
Pemanfaatan penelitian dapat dilihat dari pengembangan keterampilan, pengembangan sikap, dan pengembangan konsep.
Dengan memperhatikan keenam syarat pemanfaatan tersebut maka jelaslah penelitian dapat dijadikan sebagai sumber belajar karena dari segi proses dan produk yang merupakan makna sumber belajar biologi, keduannya dapat dicapai sekaligus. Makna sumber belajar dari segi proses yang dapat dicapai ialah berkaitan dengan kepentingan pengembangan keterampilan belajar biologi dan dari segi produk berkaitan dengan kepentingan untuk pengembangan terutamafakta dan konsep. Penyususna program instruksional dengan memanfaatkan penelitian ini dapat dibagi dalam 2 tahap, yaitu: 22
a.    Analisis Hasil Penelitian
Analisis Hasil penelitian meliputi proses (melibatkan 5 M) dan produk (mengungkapkan fakta, konsep, prinsip, dan hukum).
1)   Fakta merupakan hasil nyata dari penelitian.
2)   Konsep merupakan konsep yang dikembangkan berdasarkan komponen fakta.
3)   Prinsip merupakan prinsip hasil penelitian.
4)   Hukum dalam analisis penelitian adalah merumuskan hukum berdasarkan penelitian atau seperti membuat kesimpulan umum.
b.    Pengembangan dalam Organisasi Instruksional
1)   Seleksi materi sesuai dengan silabus yang ditetapkan dan KD
2)   Perencanaan dalam pembelajaran (pokok bahasan, sub pokok bahasan, KI, KD, indikator, sasaran, metode, sarana, sumber, sistem interaksi, dan sistem evaluasi).
3)   Rancangan kegiatan belajar mengajar (modifikasi dari penelitian, siswa yang berperan aktif).
4)   Evaluasi proses dan hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana perolehan belajar siswa meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

2.5. Hasil Penelitian yang Relevan
Dalam penelitian ini penulis memaparkan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti tentang plankton sebagai alat pemantau kualitas air. Menurut Junaidi, dkk., (2013) dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Komunitas Plankton Di Perairan Sungai Ogan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan” memaparkan bahwa hasil penelitian didapatkan 81 spesies plankton yang terdiri dari 14 Kelas yaitu Bacillariophyceae, Chloropyceae, Ciliatea, Coleochaetophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae, Eurotatoria, Euglenoidea, Noctiluciphyceae, Trebouxiophyceae, Tubulinea, Ulvophyceae, Xanthophyceae, dan Zygnematophyceae. Kelimpahan Plankton pada perairan Sungai Ogan tergolong rendah-tinggi yaitu berkisar antara 80 individu/liter - 325 individu/liter. Indeks keanekaragaman jenis tergolong kategori sedang – tinggi yaitu berkisar antara 1,4 - 3,1. Indeks Dominansi berkisar antara 0,05 - 0,4, yang menunjukan tidak adanya spesies plankton yang melimpah dan berdasarkan nilai Indeks Kesamaan menunjukan bahwa antar stasiun penelitian memiliki kesamaan yang rendah yaitu berkisar antara 12,86% - 60,46%.
Menurut Kamilah, dkk., (2014), dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Keanekaragaman Plankton yang Toleran terhadap Kondisi Perairan Tercemar di Sumber Air Belerang, Sumber Beceng Sumenep, Madura” mendapatkan hasil menunjukkan terdapat 14 genus plankton yang terdiri dari 12 genus fitoplankton dan 2 genus zooplankton. Genus yang dominan dari golongan fitoplankton adalah Melosira dan Leptocylindrus yang termasuk ke dalam kelas Bacillariophyceae, serta genus yang mendominasi dari golongan zooplankton adalah Aphelenchoides yang termasuk ke dalam kelas Secernentea. Indeks keanekaragaman plankton di Sumber Beceng adalah 1,24, termasuk ke dalam golongan perairan yang tercemar sedang karena indeks keanekaragamannya masih dalam rentang       1,0 – 1,5.
Menurut Gunawan, dkk., (2015), dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Evaluasi Kualitas Perairan Berdasarkan Diversitas dan Struktur Komunitas Plankton Pada Kolam Bekas Tambang Batu Bara yang Terdapat Aktivitas Keramba Ikan di Tenggarong Seberang” mendapatkan hasil menunjukkan bahwa ada tiga kelas fitoplankton 14 famili dan 26 genus yang terdapat di kolam penambangan batu bara, sedangkan zooplankton di kolam hanya terdapat 2 famili dan 4 genus. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner (H'), keragaman plankton di tambak batubara tanpa aktivitas ikan lebih tinggi dari pada kolam dengan keramba ikan yang terdaat ikan, yaitu 24.008 dan 21.195 masing-masing. Artinya kualitas air di kedua tambak tersebut cukup sedang. Berdasarkan Indeks Dominasi Simpson (D), tidak ada dominasi spesimen plankton di kedua kolam penambangan batu bara.
Menurut Abadi, dkk., (2010), dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Analisa Kualitas Perairan Sungai Klinter Nganjuk Berdasarkan Parameter Biologi (plankton)” menunjukan hasil bahwa pada tiga stasiun didapatkan 3 divisi plankton yang terdiri dari divisi Chlorophyta sebanyak enam jenis, Chrysophyta sebanyak sembilan jenis, dan Cyanophyta sebanyak tiga jenis. Nilai kelimpahan tertinggi pada stasiun dua masing-masing sebesar 371269.5 individu L-1, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun 3 masingmasing sebesar 84354.2 individu L-1. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman, dan saprobitas tertinggi terdapat pada stasiun 1 yakni sebesar 2.04 individu L-1, 0.18 individu L-1 dan -0.27 25 individu L-1. Sedangkan keanekaragaman dan kemerataan, dan saprobitas terendah pada stasiun 2 masing-masing 0.55, 0.04, dan -2.49 individu L-1. Secara garis besar, kualitas perairan sungai Klinter berdasarkan indeks keanekaragaman dan saprobitas termasuk dalam katagori tercemar sedang sampai sangat berat.
Menurut Anwar (2014), dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Studi Kelimpahan Dan Sebaran Phytoplankton Secara Horizontal (Kasus Sungai Kuri Lompo Kabupaten Maros)” memaparkan bahwa hasil penelitian Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan phytoplankton pada tiga stasiun pengamatan selama lima minggu penelitian diperoleh nilai rata-rata berkisar antara 18,5-24,5 ind/L dan menunjukkan nilai keanekaragaman yang sedang dengan kisaran nilai 0,212171 ind/L-0,851241 ind/L yang kemudian menghasilkan nilai keseragaman 0,978082 ind/L pada daerah estuaria atau muara sungai yang tergolong tinggi, daerah pemukiman dengan nilai 0,586516 ind/L dimana nilai tersebut dikategorikan dalam nilai keanekaragaman yang sedang, dan daerah saluran tambak atau kawasan perikanan yang memiliki nilai keanekaragaman yang tergolong rendah dengan nilai 0,306099 ind/L. Pada daerah pemukiman terdapat jenis phytoplankton yang mendominasi yaitu jenis navicula sp. dengan nilai tertinggi 0,851852 ind/L.
2.6. Danau Sembuluh
Kabupaten Seruyan dengan ibukotanya Kuala Pembuang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 16.404 km2 yang terdiri dari kawasan hutan 11.354,02 km2(69,52% terhadap luas Kabupaten Seruyan), luas rawa-rawa 733,49 km2(4,77% terhadap luas Kabupaten Seruyan), luas sungai, danau dan genangan lainnya 605,81 km2 (3,99% terhadap luas Kabupaten Seruyan) dan lahan yang sudah dibudidayakan seluas 3.512,68 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Seruyan pada pertengahan tahun 2008 berkisar ± 130.673 jiwa yang sebagian besar masyarakat pesisir ± 36.617 jiwa (28,02% dari jumlah penduduk Kabupaten Seruyan) sehingga mayoritas mata pencaharian penduduk di sektor kelautan dan perikanan.
Wilayah Kabupaten Seruyan dibelah oleh Sungai Seruyan yang mengalir dari utara ke selatan dan bermuara ke laut jawa dengan panjang sungai ± 350 km dan yang bisa dilayari 300 Km dengan anak sungai yaitu Anak Sungai Danau Sembuluh panjang 76 km, anak Sungai Kalua Besar panjang 65 km, Anak Sungai Manjul panjang 50 km, Anak Sungai Salau panjang 30 km, Anak Sungai Pukun panjang 30 km, Anak Sungai S. Kale panjang 30 km. Danau yang terdapat di Kabupaten Seruyan diantaranya: Danau Sembuluh, Danau Bakung, Danau Jahitan, Danau Papudak, Danau Seluluk, Danau Burung, Danau Teruntum dll, sehingga mayoritas mata pencaharian penduduk di sektor kelautan dan perikanan
Destinasi wisata kali ini adalah Danau Sembuluh. Sebuah danau yang merupakan danau terbesar di Kalimantan Tengah dengan luas 7.832,5 ha dan memiliki panjang sejauh 35,68 km. Danau ini merupakan tempat bermuaranya sungai-sungai besar dan kecil seperti Kupang, Rungau, dan Ramania. Di sekitar danau yang luasnya mencapai 2.424 km2 ini terdapat beberapa desa, yaitu Sembuluh I, Sembuluh II, Bangkal dan Terawan. Saat kemarau seperti sekarang adalah waktu yang tepat untuk berlibur ke Danau Sembuluh, karena pinggiran danau yang mempunyai pasir putih akan lebih tampak dan menambah indah nuansa matahari terbenam (sunset). Adanya aktivitas masyarakat yang melakukan pembuatan kapal kayu/pinisi menjadi daya tarik tersendiri dan cocok untuk dijadikan obyek hunting foto para penggemar fotografi
Potensi yang dimiliki danau ini adalah memiliki pinggiran danau yang berpasir sehingga dapat dijadikan tempat berlabuh dan wisata, potensi perikanan yang tinggi, dan terdapat beberapa desa yang berada di pinggiran danau. Danau sembuluh yang luas ini juga meliputi beberapa danau kecil yang berupa perairan anak sungai yang berbentuk danau yang lebih kecil dengan aliran sungai yang kembali ke aliran utama dan atau aliran sungai mati.
Jenis ikan yang terdapat di danau ini adalah ikan betutu, gabus-gabusan, jelawat, seluang, sepat, lais, baung, botia, toman, tabakang, dan tapah. Beberapa kegiatan yang dilakukan disekitar danau meliputi industri galangan kapal, perkebunan kopi dan karet, peternakan, serta perikanan tangkap dan budidaya keramba.Untuk mencapai danau tersebut dari Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah, dapat dicapai menggunakan kendaraan darat sejauh 240 km menuju Sampit, dan dari Sampit menuju Desa sembuluh sejauh 130 km.

BAB III
PENUTUP

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah dengan memilih Kota Palangkaraya dan tiga kabupaten penghasil labi-labi lainnya yaitu Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Seruyan (Gambar 1).
Gambar 1 Peta lokasi penelitian.
3.1 Provinsi Kalimantan Tengah
Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan ibukotanya Palangkarayasecara geografis terletak di daerah khatulistiwa yaitu pada 000 45’ LU – 030 30’LS dan 1110 BT – 1150 BT, yang luas wilayahnya mencapai 153.564 km2 atau 1,5kali Pulau Jawa dan merupakan provinsi terluas ketiga di Indonesia setelah Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Papua. Kalimantan Tengah pada bagian utara berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, bagian timur berbatasan dengan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, bagian selatan berbatasan dengan Laut Jawa, dan sebelah barat berbatasan dengan Kalimantan Barat. Kalimantan Tengah saat ini terdiri dari 13 kabupaten dan satu kota dengan 85 kecamatan yang terdiri dari 1.340 desa dan 101 kelurahan. Rincian kabupaten di Kalimantan Tengah

No       Kabupaten/Kota                   Luas                % Terhadap              Jumlah           Jumlah
Km2                Luas kalteng             kecamata       Desa

1          Murung Raya                          23.700             15,43                          5                      118
2          Barito Utara                           8.300               5,40                            6                      102
3          Barito Selatan                         8.830              5,75                             6                     95
4          Barito Timur                            3.834               2,50                             6                      68
5          Kapuas                                    14.999             9,77                             12                    184
6          Gunung Mas                           10.804             7,04                             11                    117
7          Pulang Pisau                           8.997               5,86                             8                      98
8          Palangka Raya                        2.400               1,56                             5                     30
9          Kotawaringin Timur               16.496             10,74                           13                    159
10        Seruyan                                  16.404             10,68                          5                      91
11        Katingan                                 17.800             11,59                           11                    153
12        Kotawaringin Barat               10.759             7,01                             6                      78
13        Lamandau                              6.414               4,18                             8                      83
14        Sukamara                                3.827               2,49                             3                     31
JUMLAH                                153.564           100,00                         105                  1.407
Sumber : BPS Provinsi Kalteng 2010

Menurut Oldeman et al. (1980) dalam MacKinnon et al. (2000), agroklimat di Kalimantan Tengah terdiri dari 4 klas, yaitu (1) Klas A di bagian utara Kalteng, yaitu lebih dari 9 bulan basah berurutan; (2) Klas B1 di Kalteng bagiantengah, yaitu 7-9 bulan basah berurutan dan satu bulan kering; (3) Klas C1, yaitu 5-6 bulan basah berurutan dan 2-4 bulan kering; (4) C2 di Kalteng bagian selatan,yaitu 5-6 bulan basah berurutan dan 5-6 bulan kering. Suhu udara dapat mencapai 230 C pada malam hari dan 330 C pada siang hari, dan penyinaran matahari 60%per tahun. Musim penghujan biasanya dimulai pada bulan Agustus dan berlangsung sampai bulan Mei, puncaknya pada bulan Nopember dan April. Iklim yang relatif lebih kering dimulai dari bulan Juni sampai bulan Agustus.
Berdasarkan peta ketinggian dalam data pokok untuk pembangunan(Bappeda TK.I Kalteng, 1993/1994), diketahui bahwa proporsi ketinggian Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut: ketinggian 0-7 mdpl seluas 13,81 %,7-25 mdpl seluas 15,23%, 25-100 mdpl seluas 42,12%, 100-500 mdpl seluas 20,96%, dan > 500 mdpl seluas 7,88%. Sedangkan berdasarkan kelerengan terdiri dari 32,97% kelerengan 0-2%, 28,86% kelerengan 2-15%, 28,34% kelerengan 15-40%, dan 9,83% kelerengan > 40%. Tanah di Kalteng meliputi jenis jenis organosol, gley dan humus (OGH), aluvial (komplek alluvial hidromorfile, aluvial marine), regosol (asosiasi regosolpodsolik), podsolik merah kuning (PMK), podsol, latosol, litosol, dan laterit. Distribusi terbesar adalah jenis PMK dengan total luas sekitar 42,40% dari total luas Kalteng (BPS Provinsi Kalteng 2010).
Kalimantan Tengah menjadi Provinsi dengan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) paling rendah di Kalimantan. Perhitungan IKLH terdiri dari 3 parameter penilaian kualitas lingkungan yaitu terdiri dari kualitas air sungai, kualitas udara dan tutupan hutan. IKLH Kalimantan Tengah hanya 45,7% dibawah angka rata-rata nasional 59,73%. Kalteng berada di urutan kedua paling bawah dari 28 provinsi yang diberi indeks, satu posisi di atas Jakarta. Hal yang membuat indeks Kalteng anjlok ke peringkat 27 adalah karena kualitas airnya yang cukup rendah, hanya 2,92%. Sedangkan kualitas udaranya bagus yaitu 93,71%, nilai tutupan lahan berada pada level sedang (40,48%). Salah satu penyebab rendahnya kualitas air adalah cukup besarnya kandungan air raksa dalam sungai di Kalteng. Hal lainnya adalah tidak terkendalinya pemanfaatan atau pengalihfungsian hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Sungai memegang peranan penting sebagai sarana transportasi yang dominan dan sebagai urat nadi aktivitas ekonomi di Kalteng. Hampir seluruh wilayah Kalteng dialiri oleh sungai besar dan kecil yang mengalir dari utara keselatan dan bermuara di Laut Jawa. Terdapat 11 sungai besar dengan panjang bervariasi antara 175 sampai 900 km dengan rata-rata kedalaman 8 m. Selain itu, terdapat tidak kurang dari 33 sungai kecil/anak sungai mengalir membelahdaerah-daerah di Kalteng. Sebagian besar penduduk bermukim dan menetap di daerah pinggiran sungai bagian hilir. Daerah-daerah lain yang jauh dari aliran sungai pada umumnya jarang dihuni.
Dayak merupakan sebutan bagi komunitas penduduk yang mendiami Pulau Kalimantan. Komunitas Dayak ini terdiri atas sub-sub suku (tribals) yang dibedakan dari bahasa, kesenian, tradisi dan tempat pemukiman. Pembagian berdasarkan komunitas Dayak terbesar menurut Ave & King (1986) adalah Dayak Iban yang ditemukan di Serawak, Brunei, Sabah dan Kalimantan Barat; Dayak Ngaju yang mendiami Kalteng; dan Dayak Kayan-Kenyah yang terdapat di Kalimantan Timur. Suku Dayak di Kalimantan terdiri dari tujuh suku, dari ketujuh suku dayak tersebut, di Kalteng terdapat paling sedikit 3 suku dengan tujuh anak sukunya yaitu suku Dayak Ngaju Ma’anyan, Dusun dan Lawangan yang menyebar di Kalteng bagian tengah sampai ke bagian timur; suku Dayak Ot Danum yang bermukim di Kalteng bagian utara; dan suku Dayak Klemantan/Dayak Darat dengan anak suku Dayak Klemantan/Dayak Darat dan Dayak Ketungau yang menyebar di Kalteng bagian barat.Mencari ikan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh kebanyakan Suku Dayak.
Jenis ikan yang banyak didapat adalah ikan baung (Mystus nemurus), lais (Cryptopterus cryptopterus), behau/gabus (Channastriata), miau (Channa lucius), kakapar (Belontia hasselti), saluang (Rasbora caudimaculata), banta (Osteochillus microcephalus), papuyu (Anabas testudineus), pentet/lele (Clarias batrachus), manjuhan/jelawat (Leptobarbus hoevenii), tampahas (Walago leerii), banangin (Osteochillus vittatus), serta kurakura jenis bere/labi-labi (A. cartilaginea). Kegiatan mencari ikan dimulai di awal musim kemarau (tampara mandang) antara bulan Mei-Juni setiap tahun. Ini adalah saat ketika ikan harus keluar ke daerah rawa-rawa (dapu) mencari air yang lebih dalam. Pola pemenuhan kebutuhan dasar suku Dayak Ma’anyan terkait erat dengan pemanfaatan hutan, sungai dan danau. Pencarian ikan dilakukan pada musim penghujan atau ketika air naik, yakni bulan Desember-Januari. Ikan dikeringkan dan diasinkan sebagai persediaan lauk pauk. Jenis ikan sungai/rawa yang sering didapat adalah baung, kakapar, patung, puyu, saluang. Alat menangkap ikan relatif sederhana terbuat dari kayu dan bambu yang diperoleh dari hutan di sekitar desa, dan dibuat pancing (pintan), nabing, marengge, wuwu/ lukah, nyalambau, lunta, pangilar, kabam. Pada musim kemarau, warga desa dapat menangkap ikan langsung dengan tangan (bagagap). Kegiatan ini dilakukan pada daerah luau atau daerah-daerah di hutan/danau yang airnya mengering. Jika pola yang sama dilakukan dengan menggunakan alat, sauk, maka cara ini disebut sebagai nikep. Suku Dayak Ot Danum mencari ikan dilakukan dengan cara memancing (mosi), jerat (naut atau mambanjur), menggunakan boka (Takalalak atau manenan dalam Bahasa Dayak Ngaju): biasanya perangkap ikan ini dipasang menghadap ke ngaju atau hilir, buwu biasanya dipasang menghadap ke hulu.
3.2 Kota Palangkaraya
Kota Palangkaraya terletak antara 1130 30’ – 1140 07’ Bujur Timur dan 10 35’ – 20 24’ Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 35 m dpl. Luas wilayah Kota Palangkaraya sebesar 2.678, 51 km2. Penggunaan lahan di Kota Palangkaraya terdiri dari kawasan hutan 2.485,75 km2; tanah pertanian 12,65 km2; pemukiman 45,54 km2; perkebunan 22,30 km2; sungai dan danau 42,86 km2; dan lain-lain 69,41 km2. Kota Palangkaraya terdiri dari 5 kecamatan dan 30 kelurahan. Jumlah penduduk Kota Palangkaraya pada tahun 2009 mencapai 200.998 jiwa yang terdiri dari 99.032 laki-laki dan 101.966 perempuan. Kepadatan penduduk Kota Palangkaraya adalah 75 jiwa/km2. Secara garis besar Kota Palangkaraya merupakan dataran rendah dan dibelah oleh sungai besar yaitu Sungai Kahayan. Luas sungai dan danau di Kota Palangkaraya sebesar 42,86 km2.
3.3 Kabupaten Katingan
Kabupaten Katingan secara geografis berada di daerah Khatulistiwa, yaitu terletak diantara 112° 0’Bujur Timur – 0°20 Lintang Selatan dan 113° 45’ Bujur Timur - 30° 30’ Lintang Selatan dengan luas ± 17.500 km2. Penggunaan lahan di Kabupaten Katingan terdiri dari: hutan 2.538,16 km²; pemukiman 192,85 km²; sawah 753,27 km²; tanah kering 1.098,47 km²; perkebunan 372,77 km²; industry 31,56 km²; hutan sekunder 8.544,03 km²; perairan dan lainnya 1.931,19 km². Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan. Jumlah penduduk Kabupaten Katingan pada tahun 2009 mencapai 148.912 jiwa yang terdiri dari 77.557 lakilaki dan 71.355 perempuan. Katingan adalah sebuah nama aliran sungai yang membentang dari laut jawa kearah utara hingga mencapai perbatasan Kalimantan Barat. Kabupaten Katingan memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan panjang 650 km dengan lebar ratarata 200 m dengan luas perairan 1.704.400 ha, terdiri dari danau 44 buah dengan luas 1.824 ha serta rawa sebanyak 56 buah yang terbentuk di kiri dan kanan daerah aliran sungai. Kawasan-kawasan ini mempunyai potensi untuk perikanan budidaya, tangkap dan daerah konservasi (closed season) atau daerah reservart serta dapat pula menjadi bisnis agro wisata.
3.4 Kabupaten Kotawaringin Timur
Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki luas wilayah 16.496 km². Penggunaan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri dari: hutan 4.118,98 km²; hutan mangrove 100,01 km²; hutan rawa 1.877,66 km²; perkebunan 1.741,86 km²; pemukiman 41,47 km²; pertambangan 75,34 km²; sawah 397,62 km²; lading 124,11 km²; kebun campuran 314,19 km²; semak belukar 3.727,13 km²; rawa belukar 1.743,59 km²; tanah terbuka 835,99 km²; transmigrasi 257,19 km²; badan air 128,98 km²; lain-lain 1.011,87 km². Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri dari 13 kecamatan dimana 3 diantaranya terletak di wilayah pesisir, 148 desa/kelurahan, terletak antara posisi 111°0’50” - 113°0’46” Bujur Timur dan 0°23’14” - 3°32’54” Lintang Selatan. Jumlah penduduk Kabupaten Kotawaringin Timur pada tahun 2009 mencapai 373.842 jiwa yang terdiri dari 197.213 laki-laki dan 176.629 perempuan. Sungai besar dan penting yang melintasi kabupaten kotawaringin Timur adalah sungai mentaya. Sepanjang sungai tersebut terdapat anak-anak sungai, danau dan rawa yang potensial sebagai sumber usaha bagi masyarakat nelayan tradisional dan pembudi daya ikan. Wilayah muara dari sungai mentaya merupakan teluk yang relatif luas dengan hutan mangrove relatif asli dengan luas 10.001 ha dan perairan teluk estuarine seluas 118 km2.
3.5 Kabupaten Seruyan
Kabupaten Seruyan dengan ibukotanya Kuala Pembuang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 16.404 km2 yang terdiri dari kawasan hutan 11.354,02 km2 (69,52% terhadap luas KabupatenSeruyan), luas rawa-rawa 733,49 km2 (4,77% terhadap luas Kabupaten Seruyan luas sungai, danau dan genangan lainnya 605,81 km2 (3,99% terhadap luas Kabupaten Seruyan) dan lahan yang sudah dibudidayakan seluas 3.512,68 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Seruyan pada pertengahan tahun 2008 berkisar ± 130.673 jiwa yang sebagian besar masyarakat pesisir ± 36.617 jiwa (28,02% dari jumlah penduduk Kabupaten Seruyan) sehingga mayoritas mata pencaharian penduduk di sektor kelautan dan perikanan. Wilayah Kabupaten Seruyan dibelah oleh Sungai Seruyan yang mengalir dari utara ke selatan dan bermuara ke laut jawa dengan panjang sungai ± 350 km dan yang bisa dilayari 300 Km dengan anak sungai yaitu Anak Sungai Danau Sembuluh panjang 76 km, anak Sungai Kalua Besar panjang 65 km, Anak Sungai Manjul panjang 50 km, Anak Sungai Salau panjang 30 km, Anak Sungai Pukun panjang 30 km, Anak Sungai S. Kale panjang 30 km. Danau yang terdapat di Kabupaten Seruyan diantaranya: Danau Sembuluh, Danau Bakung, Danau Jahitan, Danau Papudak, Danau Seluluk, Danau Burung, Danau Teruntum dll, sehingga mayoritas mata pencaharian penduduk di sektor kelautan dan perikanan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WISATA SEJARAH TANGGA BATU KABUPATEN SERUYAN

AIR TERJUN SULING TAMBUN KABUPATEN SERUYAN

RIAM MA'HAD KABUPATEN SERUYAN